Menelusuri Pelacuran ABG di Sejumlah Kota.

[http://idur.tripod.com/abg.html]
SURABAYA – JAWATIMUR
Anak ‘Bau Kencur’ di Segi Tiga Emas Surabaya
GINCUNYA tidak terlalu tebal. Ia sepertinya baru belajar memakai pemerah bibir. Ia berusaha tersenyum sambil memainkan telunjuk kanannya yang ditempel di pipinya, ketika lampu mobil menyorot ke arahnya. Gadis ‘bau kencur’ itu mundur beberapa langkah begitu mobil berhenti di dekatnya. Dan posisinya diganti seorang pria.
Siapa pria itu. Jangan terlalu cemas, itu adalah ‘negosiator’. Di kawasan yang terkenal dengan sebutan ‘segi tiga emas’ Surabaya, yaitu Jl Pemuda, Jl Tais Nasution, dan Jl Simpang Dukuh setiap malam pemandangan seperti itu merupakan hal biasa. Di kawasan itu, setiap hari mulai pukul 18.00 para ABG (anak baru gede) mulai pasang aksi.
Untuk bisa ‘menggaet’ ABG di Surabaya memang gampang-gampang susah. Untuk yang memakai mobil pribadi, tidak sulit. Dengan, sekali tekan klakson, mereka akan mendekat dan menawarkan diri. Masalah tarif bisa dibicarakan sambil berjalan, kalau tidak cocok, bisa dikembalikan ke tempat di mana mereka mangkal. Atau melakukan tawar-menawar melalui ‘negosiator’ alias germo.
Tapi, bagi mereka yang tidak memiliki mobil pribadi, dengan taksi saja sudah bisa asalkan jangan berdua. Harus sendiri. Apalagi, memakai sepeda motor, mereka akan menolak secara tegas. Itu yang dialami Media ketika mendekati mereka sambil mengendarai sepeda motor.
Seorang penjual minuman yang mangkal di Jl Pemuda, langsung memperingatkan. “Kalau mau booking ABG, jangan sekali-kali ada dua pria dalam taksi itu, atau sepeda motor, mereka tidak mau, malah lari,” katanya.
Pernah ada ABG yang dibawa oleh dua orang, ternyata di tengah jalan seluruh perhiasannya dipreteli, termasuk uangnya. Sejak, kejadian itu mereka sangat hati-hati.
Media kemudian, seorang diri mencarter taksi sambil menelusuri kawasan ‘segi tiga emas’ itu. Saat di Jl Tais Nasution, taksi melaju pela-pelan. Para ABG yang berjejer mulai tampak senyum-senyum, sambil memainkan tulunjuknya yang ditempel di pipi.
Begitu melihat di dalam taksi hanya satu orang dan mobil berhenti, mereka kemudian melangkah mundur. Dan tampil seorang pria yang berpakaian sangat rapi.
Pria itu membungkuk ke jendela mobil, “Malam Bos, cari cewek. Tinggal pilih,” kata germo itu sambil menyebutkan nama-nama ABG yang ada dalam ‘genggamannya’.
Ia menunjuk, “Yang pakai kaus putih, umurnya baru 16 tahun, sedangkan yang kaus hitam umurnya 19 tahun. Tinggal pilih, mana yang suka,” ujar pemuda yang mengaku bernama Teddy.
“Berapa tarifnya,”tanya Media. “Di kawasan sini sudah biasa, antara Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu. Untuk short time, selama tiga jam. Selebihnya, silahkan bos yang transaksi dengan ceweknya. Yang, jelas kita pasang tarif itu,” katanya.
Apa boleh ditawar. Tentu saja, bisa, tarif yang dipatok tidak mutlak, tapi bisa ditawar. Asalkan, jangan sampai Rp 100 ribu, pasti tidak akan digubris.
Transaksi biasanya tidak bisa langsung OK, tapi harus melalui proses. Pada saat itu, GM (panggilan khusus untuk negosiator) memanggil cewek yang dimaksud agar masuk lebih dulu ke dalam mobil. Tujuannya, tidak lain agar konsumen tahu wajah dan panampilannya. “Biasanya di jalan, waktunya sangat sempit, maka ceweknya diperintahkan masuk dulu. Biar, Bos tahu saja,”kata Teddy.
Jika tidak berkenan, mereka juga tidak kecewa.
Perjalanan kemudian dilanjutkan ke Jl Embong Sawo, tidak jauh dari Jl Pemuda, hanya sekitar 50 meter. Di tempat ini, tampak dua ABG duduk di atas sepeda motor, sambil menghisap rokok. Keduanya, tidak langsung mendatangi mobil. Tapi, germo yang menghampiri begitu jendela mobil terbuka. Kalimat pertama yang keluar adalah, “Malam. Cari cewek,” katanya. “Maaf, tinggal dua ABG, lainya sudah di-booking orang. Tapi, saya jamin tidak rewel. Siap, main dalam bentuk apa pun juga,” ujarnya setengah memaksa.
Di kawasan Jl Embong Sawu ini tarifnya memang agak sedikit mahal dibandingkan dengan ABG di Jl Tais Nasution. Yang membedakan karena di kawasan itu ABG-nya benar-benar masih ‘bau kencur’. Untuk tiga jam, mereka pasang tarif Rp 200 ribu. Memang, bisa ditawar tapi tetap saja tidak boleh di bawah Rp 150 ribu.
“Jangan disamakan dengan yang lain. Cewek di sini memiliki ketangguhan dalam hal servis,” ujar sang germo. Tanpa menyebut, jenis ketangguhan yang dimaksud.
Di Jl Simpang Dukuh memang lebih ramai dibandingkan tempat mangkal lainnya karena terdapat diskotek. Selain itu, tidak ada penerangan jalan yang menyebabkan anak-anak baru gede itu tidak malu-malu menawarkan diri kepada ‘konsumen’ yang kebetulan lewat di tempat tersebut. Di kawasan ini, mereka agak jual mahal. Tidak sembarangan mau diajak.
“Cewek di sini memang jual mahal, Mas. Kalau, orangnya itu tidak bermata sipit, jarang yang mau. Tapi, kalau punya mata sipit dan bermobil, langsung tancap,” kata seorang pedagang yang biasa menjadi tempat mangkal ABG.
Seperti kawasan lainya, peran germo sangat dominan. Ini tidak lain, karena sikap malu-malu yang ditunjukkan para ABG tersebut. Ketika, Media melewati kawasan itu, sejumlah ABG hanya bergerombol, sepertinya mereka tidak terlalu peduli terhadap ‘tamu’ yang datang.
“Silakan pilih sendiri. Ini namanya Hana dan ini namanya Yeni. Dua-duanya ABG tulen,” kata germo bernama Sandy. Untuk meyakinkan konsumen, mereka tidak malu-malu menyebut bahwa keduanya bisa diajak ‘karaoke’ istilah oral seks di kalangan ABG.
Tarifnya tidak jauh beda dengan ABG yang mangkal di kawasan lainya, yakni Rp 150 ribu. Bahkan, kalau pandai menawar bisa turun hanya Rp Rp 125 ribu untuk tiga jam pemakaian. Kalau mau nambah bisa dikalikan sendiri.
Tapi di kawasan ini harus ekstrahati-hati, germo sering main paksa. Kendati hanya sekadar minta uang rokok, tapi biasanya memanfaatkan ABG dengan menyebutkan bahwa ‘anak asuhnya’ itu punya utang.
Seperti yang dialami Media, seorang germo mengatakan kepada salah satu ABG, “Han, kamu kan punya utang sama saya Rp 15 ribu, bagaimana kalau Bos ini yang bayar, tidak apa-apa kan,” kata Sandy. Ketika disodorkan uang Rp 20 ribu, germo itu mengatakan, “Terima kasih Bos, silakan nikmati malam minggunya.”.
Germo di Jl Tais Nasution, paling sedikit memiliki lima ‘anak asuh’, dan paling banyak 20 orang. Mereka selalu membawa foto ‘anak asuh’ dalam berbagai pose.
Mereka sebagian besar dari kalangan pelajar dan mahasiswa. Jika ditanya, mereka tidak sungkan-sungkan menyebut nama SLTA tempat mereka sekolah atau menyebutkan nama perguruan tingginya bagi yang mahasiswi.
‘Kalau Saya Suka, Gratis pun Jadi’
“KALAU saya suka, gratis pun jadi,” kata Hana. Gadis manis yang tahun lalu lulus sebuah SLTP di Probolinggo itu akan sangat senang bila bertemu dengan pria ganteng.
Ukuran ganteng bagi Hana tidak ada standar khusus, misalnya tinggi besar, atletis, berkumis atau lain sebagainya, “Pokoknya ganteng dan saya suka. Oke,” ujarnya sambil tersenyum.
“Tapi biarpun uangnya satu karung, kalau saya tidak suka, ya saya enggak mau,” katanya.
Sudah berkali-kali ia tidak mau menerima bayaran dari pria ganteng yang disukai. Yang paling melekat di hatinya, adalah seorang pria ganteng dari Indonesia timur.
Ia terjun ke dunia ‘hitam’ bukan hanya karena persoalan ekonomi. Tapi lebih pada kebebasan dan kepuasan bergaul dengan banyak orang dari berbagai kalangan. Dia percaya betul bahwa bergaul dengan banyak orang, akan memperoleh segala-galanya. “Kesenangan itu adalah segala-galanya,” katanya.
Dan yang paling penting, “Saya bisa senang-senang,” katanya. Hana mengaku kenal dengan banyak wartawan. Bahkan yang menjadi germonya di Jl Tais Nasution itu adalah seorang wartawan. Ia tidak bersedia menyebutkan nama media tempat germonya bekerja.
Hana tidak bersedia diajak pergi terlalu jauh dari pangkalannya, “Saya lebih senang diajak ke Pinang Inn,” ujarnya. Ia menyebut nama sebuah hotel tempat biasa mengajak teman kencannya chek in. Ia tidak mau terlalu jauh, karena sudah harus di rumahnya kembali paling telat pulul 23.00.
Di Surabaya cukup banyak hotel yang sudah dikenal oleh ABG, antara lain Hotel Pinang Inn (Jl Dinoyo), Hotel Puspa Asri (Jl Kenjeran), Hotel Malibu (Jl Ngagel), Hotel Pondok Hijau (di kawasan Bukit Darmo Golf Surabaya).
Para sopir taksi juga sudah hafal betul nama-nama hotel tersebut. Sekali sebut saja, pasti tidak akan salah alamat. Biasanya, tarif hotel untuk enam jam pertama yakni Rp 60 ribu sampai Rp 70 ribu, dengan fasilitas sebuah televisi, kulkas, dan air hangat.
ABG jalanan ternyata bersaing dengan ABG yang sudah tersedia di hotel-hotel. Seperti di Pinang Inn, misalnya, begitu mobil masuk ke lapangan parkir, seorang petugas langsung berkata, “Lain kali kalau ke sini, tidak perlu bawa pasangan, di sini banyak.” Ia menawarkan beberapa SPG (sales promotion girl) yang biasa bekerja di pertokoan elite.
Ia juga bercerita soal tanda-tanda kamar hotel sedang kosong atau penuh. Jika, tampak tertutup, berarti kamar sedang terpakai, jika terbuka berarti kosong.
Lalu siapa saja yang pernah masuk kamar hotel bersama Hana? Ia menyebut sejumlah nama. Tapi yang paling berkesan adalah ketika berkencan dengan anak pejabat Pertamina dari Jakarta. ”Enak. Dia royal dan ganteng,” kata Hana.
Hana mengaku terjun ke dunia ‘hitam’, karena dikhianati pacar. Sejak SLTP dia memang sudah mengenal hubungan seks, yang dilakukan pertama kali bersama pacarnya. Tapi sang pacar berkhianat, “Sejak itu saya menjadi petualang cinta. Dari pelukan lelaki satu ke lelaki lain. Saya tidak tahu, sampai kapan saya bisa selesai,” ujarnya.
Menurut Hana, teman-temannya sesama ABG tidak pernah takut dengan ganasnya virus AIDS. Mereka tidak teralu suka jika teman kencannya menggunakan kondom.
Hal itu dibenarkan oleh Rika, ABG yang mengaku masih sekolah di kawasan, Jl Arjuno, Surabaya. Rika selalu menelan antibiotik jika, akan berkencan seorang pria, siapa pun dia. Selain itu, dirinya juga selalu rajin suntik untuk menghindari kehamilan.
“Saya juga punya dokter pribadi, yang setiap saat memeriksa kesehatan saya. Jadi, jangan khawatir kalau saya terkena penyakit,” kata Rika yang mengaku terjun menjadi pelacur karena diperkosa kakak iparnya.
Rika selalu membatasi jumlah teman kencannya. Setiap, malam dia mengaku hanya melayani satu orang, “Kalau lebih dari satu orang, capeknya setengah mati,” kata Rika.
Tentu saja, karena setiap kali kencan dia ‘habis-habisan’, “Tenaga saya hampir tidak tersisa. Ya, dia puas, saya puas. Selain itu dapat uang. Untungnya dua kali, puas dan dapat uang,” ujar Rika.
Rika mengaku, di antara para ABG di Surabaya, kalau bicara soal gaya seks, dialah jagonya. Hampir semua gaya dia kuasai. Itu didapat dari film biru dan bacaan-bacaan tentang seks.
“Jualan itu yang penting bukan isinya, tapi kemasan dan modelnya. Saya siap dengan model apa pun. Bahkan sering kali saya mengajarkan tamu tentang gaya-gaya yang belum dikenal. Biasanya dia puas dan akan mencari saya lagi,” ujarnya.
Kendati sudah habis-habisan, banyak juga pria hidung belang yang permintaannya aneh-aneh. “Ya ini ya itu, pokoknya kita ini harus siap, diapakan saja. Asalkan, satu, jangan sampai lewat ini,” kata Rika sambil menunjuk pantatnya.
Rika sudah memahami betul bahwa menjadi ABG jalanan harus siap menghadapi risiko apa pun. Termasuk, jika tamu yang dihadapai adalah hiperseks. Rika mengaku pernah dibawa seorang pengusaha properti dari Jakarta. Awalnya, memang biasa-biasa saja. Bahkan sangat romantis.
Tapi, setelah di kamar teryata orang itu hiperseks. Ia diminta melayani sampai pagi, padahal saat itu waktu yang diberikan hanya tiga jam. Awalnya, dia tidak mau, tapi setelah dijanjikan bayaran yang berlipat-lipat, Rika langsung setuju.
“Begitu selesai badan saya rasanya seperti patah-patah. Pokoknya, saya kapok melayani pria hiperseks,” kata Rika. Dari pengusaha properti itu dia mendapat bayaran Rp 1 juta.
Rika mengaku, dia diperlakukan seperti bukan manusia. Pria tersebut seperti tidak pernah merasa letih. “Saya kewalahan betul melayaninya. Awalnya sih enak, karena dia pandai sekali. Tapi lama-lama saya jadi tidak sanggup melayaninya.”
Oleh Rika, cerita soal pria hiperseks kemudian menyebar ke hampir setiap ABG di Surabaya. Jadi mereka sangat takut berhubungan dengan pria semacam itu.
Hal lain lagi yang ditakuti mereka adalah operasi petugas kepolisian. Untuk mengelabui petugas, meraka selalu berpakaian sangat sopan. Tidak pernah menggunakan rok mini atau baju yang menonjolkan bagian dada.
Selain itu, untuk menghindari kejaran polisi, para germo dan ABG sudah membuat jaringan yang cukup rapi. Antara lain dengan cara menjalin hubungan khusus dengan petugas. Biasanya begitu akan ada razia, si petugas itu akan memberi tahu mereka.
MALANG – JAWATIMUR.
SISI namanya. Berusia 19 tahun. Anak seorang pengusaha terkenal di Malang dan pengurus salah satu cabang olahraga. Hampir setiap hari nama ayahnya muncul di surat kabar.
Gadis cantik, yang namanya minta dituliskan persis seperti yang tertera di KTP-nya, adalah salah satu ABG ‘papan atas’ di Malang. Bila ‘turun’ ke jalan, ia biasa disapa dengan nama Sisi.
Apa yang kau cari Sisi? “Biar ayah tahu kalau saya sekarang memilih profesi ini. Jual diri,” katanya.
Secara sadar Sisi menyatakan harus melacur untuk membalas perlakuan ayahnya yang amat jarang pulang ke rumah saking sibuknya. Namun dia tidak akan mengobral pengakuan kepada sembarang orang, alasannya biar ayahnya tahu secara alamiah dari mulut ke mulut.
Karena itu pula, dia tidak canggung sedikit pun tatkala kepergok wartawan yang juga amat dikenalnya karena kerap datang ke rumahnya di kawasan elite di Malang. Setelah ibunya meninggal pada 1995 lalu, praktis di rumah sudah tidak ada figur panutan lagi. Jawaban Sisi terbilang klasik: korban broken home atau kekisruhan rumah tangga seperti halnya ratusan pelacur ABG lainnya. Sisi merasa tidak ada satu pun orang di rumahnya yang bisa dijadikan tempat berlindung. Ia malah merasa terlindung di dalam dekapan banyak pria yang menyukainya.
Kendati sebagai gadis muda belia yang cantik, Sisi lebih suka berdandan ala kadarnya. Akan tetapi wajah cantiknya tak bisa disembunyikan.
Sebagai pelacur ABG, Sisi semula tergolong laris, namun kemudian banyak ditinggalkan pelanggannya karena dinilai terlalu rewel.
Seorang pria yang cukup terpandang di Malang yang pernah beberapa kali membawa Sisi, mengatakan, “Dia selalu minta cepat pulang. Setelah di-booking pukul 12.00 WIB, pukul 17.00 sudah minta selesai dan cepat-cepat memanggil taksi untuk mengantarkan ke rumahnya.”
Pria berusia 45 tahun itu sengaja memilih Sisi karena gadis tersebut datang dari keluarga terpandang, dan sudah menjadi pembicaraan kalangan atas di Malang.
“Saya sengaja memilih Sisi karena alasan prestise. Ternyata setelah saya rasakan, dia banyak permintaan. Soal duit sih, dia tidak banyak tanya,” katanya. Disebutkan tarif rata-rata pelacur sekelas Sisi –sebelum dipotong honorarium GM-nya– Rp 500.000 sekali pakai. Sisi mengaku masih kuliah, “Silakan cek kalau tak percaya,” ujarnya sembari menunjukkan KTM (kartu tanda mahasiswa) sebuah perguruan tinggi kesohor di Malang. Teman-temannya di kampus sudah banyak yang mengetahui Sisi menjadi pelacur, “Mereka tidak terlalu peduli. Tidak sedikit teman saya yang seperti saya. Kami saling tahu kelakuan masing-masing,” katanya.
Di Malang belakangan ini, memang banyak pelacur ABG yang datang dari kalangan ‘atas’. Sedikitnya, saat ini ada 25 ABG dari kalangan etnis Cina. Seorang gadis bermata sipit menceritakan tentang teman-temannya yang terjun ke dunia ‘hitam’, yang semuanya berasal dari keluarga mampu. “Sebelum ini, ayah saya pengusaha cukup sukses. Entah kenapa tiba-tiba bangkrut,” cerita Lani, ketika ditemui di Dieng Plaza. Ia anak seorang pengusaha di Kediri.
Lani mengaku, sejak bisnis ayahnya bangkrut itulah kiriman uang kuliah di PTN terkenal di Malang tersendat-sendat. Terpaksa, Lani harus melayani pria hidung belang. Rupanya, resesi ekonomi yang mendera Indonesia dua tahun terakhir ikut menggelontor kelompok etnis yang selama ini dikenal paling mapan ekonominya. Bagi Lani, profesi inilah yang mampu menyambung napas hidup kuliahnya. Lani mengaku sekali dipakai dia mendapat bagian Rp 250.000. “Yang Rp 50.000 untuk Mami,” ungkapnya seraya menunjuk perempuan 40-an tahun yang duduk agak berjauhan.
Tapi tidak gampang menemui ABG di Kota Apel itu. Mereka bergerak secara rapi. Lokasi mangkal ABG –di Malang kerap disebut ayam abu-abu (bagi yang terlihat berseragam SMU) atau ayam kampus (khusus bagi pelacur ABG dari kalangan mahasiswi)– bisa ditemui di Plaza Dieng, food court Plaza Sarinah, di samping diskotek My Place, Laguna, dan Djoko Tarub Discoteque di kawasan wisata Batu. “Ada pula yang terang-terangan membuka praktek. Mereka bisa ditemui setiap saat di Hotel Royal Inn,” ujar seorang GM seraya menyebut beberapa nama hotel. Sisanya, di Hotel Garuda atau penginapan kelas bawah lain, merupakan pelacur profesional berusia 25 hingga 30 tahun. Berbeda dengan ABG di Surabaya yang berani menjajakan diri di tempat terbuka seperti di pinggir jalan –para ‘pemakai’ menyebutnya sebagai pelacur embongan (jalanan)– di Malang hanya bisa dijumpai di tempat-tempat keramaian seperti pertokoan atau kawasan tempat nongkrong anak muda. Mereka juga bisa ditemui di karaoke, diskotek, atau kafe.
Mereka memanfaatkan radio panggil (pager) bahkan ponsel (handphone) untuk mempermudah transaksi. Mereka rata-rata bergabung dalam induk semang/mami atau germo (GM). Tempat yang paling terkenal adalah kawasan Tlogomas dan Jl Tirtonadi. Ada satu yang tidak beroperasi lagi yakni yang di Jl Bandung 14.
Di kawasan wisata Batu, mereka bisa ditemui di Jaka Tarub Discoteque di Hotel Purnama. Masyarakat setempat juga mengenali ABG muka lama atau pendatang baru.
Masih di Batu, ada satu lagi Diskotek Fantasia yang pada Jumat, Sabtu, dan Minggu dijejali ABG. Di sekitar dua diskotek tersebut terdapat ratusan vila yang bisa disewa per jam. Bahkan, harga sewa bisa terbilang sangat murah, kecuali Sabtu dan Minggu. Pada hari biasa harga sewa dalam kisaran Rp 25.000 hingga Rp 100.000 per paro hari. Tidak usah ragu-ragu, karena para penjaga vila senantiasa bersikap proaktif. Mereka juga tak jarang berperan ganda sebagai broker (pialang) atau perantara atas permintaan para ABG. “Kalau akhir pekan mahal. Sebab kita sampai menolak permintaan,” kata seorang penjaja vila di kawasan Songgoriti Batu. Maklum, mereka kebanjiran ‘wisatawan’ dari Surabaya dan Jakarta. Dari mana mereka berasal? Pengakuannya bisa macam-macam. Kebanyakan mengaku dari Blitar, Kediri, Surabaya, atau daerah lain di Jatim. Tidak sedikit pula yang berasal dari Kalimantan, Sulawesi, dan belahan Indonesia timur lainnya. Tapi jumlahnya tidak bisa mengalahkan yang berasal dari Malang sendiri.
YOGYAKARTA – JAWATENGAH
Di Yogyakarta Mereka Disebut ‘Ciblek’
CIBLEK. Itu sebutan untuk pelacur ABG di Yogyakarta. Singkatan dari cilikan betah melek.
Rinda, adalah salah satu ciblek yang hampir setiap hari mangkal di sebuah mal kawasan Malioboro. Ia putri seorang dosen sebuah perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta.
Gadis manis satu ini minggat dari rumah orang tuanya karena merasa terlalu dikekang. “Di rumah terlalu banyak larangan. Tidak boleh ini, tidak boleh begitu. Rasanya seperti di penjara,” katanya.
Karena itu ia memilih untuk tinggal di rumah kos. “Rasanya lebih bebas. Bisa melakukan apa saja. Pokoknya seenak sayalah,” ujarnya sambil tertawa lepas.
Ia sangat menikmati kehidupannya sebagai ciblek “Naik mobil, tidur di hotel, makan di tempat yang mewah, dan sebagainya,” katanya.
Kendati melek sampai larut malam, Rinda terbiasa bangun pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Ia sangat pandai menyembunyikan ‘profesinya’. Kalaupun kepergok teman sekolah atau tetangganya di mal tersebut, ia tidak terlalu khawatir. Karena di Yogyakarta terlalu banyak anak-anak remaja yang nongkrong di pusat-pusat keramaian seperti itu.
Lalu bagaimana cara Linda menggaet pria hidung belang? “Tidak terlalu susah. Saya tahu dari cara dia melirik. Lalu saya senyum sedikit, dia juga tersenyum. Biasanya kalau pria sudah tersenyum, langsung mendekatkan diri. Ya kemudian jalan,” cerita Rinda.
Para ciblek di Yogyakarta memiliki beberapa tempat mangkal. Mereka bisa ditemukan di sebuah mal di kawasan Malioboro, di Jl Perwakilan atau di kawasan Senisono.
Para remaja yang biasa nongkrong di tempat tersebut, menurut Rinda, rata-rata ciblek. Antara pelajar dan mahasiswi, punya kelompok sendiri-sendiri, sehingga tidak saling mengusik.
Untuk mendekati mereka, sebenarnya tidak terlalu gampang, meski tidak sulit. Para ciblek ini biasanya lebih suka diajak berkenalan, makan-makan baru kemudian transaksi.
“Tapi kami bukan pelacur,” katanya. Ia menyebut dirinya sebagai gadis remaja yang mencari kesenangan. “Kalau pelacur, kan mau dibawa ke mana saja dan oleh siapa saja yang penting diberi uang,” ujarnya.
Tapi Rinda selalu memilih-milih teman kencannya. Dia lebih suka pria yang ganteng dan berpenampilan rapi. “Pria terlalu tua juga saya hindari. Kalau 40 tahun ke bawah okelah. Malu rasanya dengan bapak-bapak. Takut terbayang orang tua sendiri,” katanya.
Khusus di kawasan mal, para ciblek bisa ditemukan di kedai makanan atau di dekat WC umum. Sedangkan di kedai kopi yang ada di kawasan itu ditemukan hombreng atau gay yang juga dari kalangan remaja.
Sedangkan di Senisono, kebanyakan adalah ciblek yang berbaur dengan anak-anak jalanan. Sementara di Alun-alun Utara lebih banyak kaum homo. Kawasan lainnya yang mulai marak dengan pelacuran anak-anak adalah Alun-alun Selatan.
Tri, 17 tahun, salah satu ciblek ‘penghuni’ Alun-alun Selatan. Pengalaman pertamanya melayani pria diperoleh tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Ia tinggal di Yogya Selatan yang pernah menjadi lokalisasi. “Kakek saya memang punya kopel di SG. Ibu saya juga membantu,” katanya. SG merupakan sebutan untuk Sanggrahan, kawasan resosialisasi para pelacur di Yogyakarta yang kini telah tergusur untuk pembangunan terminal bus.
Kendati masih sangat belia, Tri cukup pandai memainkan harga jika ada yang menawar. “Kalau mereka tanya ya saya jawab Rp 100.000 sekali main,” katanya. Tapi tarif yang dipasang Tri bukanlah harga mati. Biasanya kalau sudah diajak makan atau nonton oleh calon teman kencannya, harga akan turun sampai Rp 25.000.
Soal harga, seorang pria yang sering menjadi perantara ABG di Alun-alun Selatan, mengatakan, harga bisa ditekan serendah mungkin. Bahkan bisa gratis.
Caranya? “Diakrabi dulu, ajak puter-puter, mabuk three in one baru jipan, paling mahal no ban go atau Rp 25.000, sudah bisa di-ebut” kata Zuma, pria muda yang sering menjembatani transaksi ABG itu.
Three in one adalah istilah untuk menyebut mabuk dengan pil, minuman keras, dan sekaligus ganja. Istilah ini sering pula diganti dengan tiga dimensi. Sedangkan ebut istilah untuk hubungan badan.
Setiap malamnya, Tri biasanya mengantongi Rp 15.000. Tapi kalau musim ‘panen’, penghasilannya bisa berlipat-lipat. Yang dimaksud musim ‘panen’, bila kegiatan besar di Yogyakarta, baik berskala nasional maupun internasional termasuk kegiatan olahraga, mereka akan mendapat banyak pesanan. “Kalau ada kegiatan seperti ini, kami bisa mendapat Rp 250.000 selama tiga hari,” katanya.
Yang biasanya menggunakan ‘jasa’ mereka pada hari-hari biasa adalah para remaja yang rata-rata memiliki uang saku yang cukup.
Lain lagi cerita Tiyas, yang biasa mangkal di sebuah kafe di Jl Perwakilan jika yang mengajaknya itu orang yang tampak memiliki uang yang cukup banyak, mengggunakan mobil, dan bahkan melengkapi diri dengan handphone serta belum kenal, bisa mematok harga Rp 100.000 sekali main.
“Tapi kalau sudah kenal baik, harga bisa dikorting,” katanya. Tapi Tiyas lebih suka berkencan dengan pria yang sudah dikenal alias telah berkali-kali berhubungan dengannya.
Menurut Tiyas yang masih sekolah di sebuah SLTA, berhubungan dengan pria yang belum dikenal terutama anak-anak sekolah atau mahasiswa, lebih banyak susah daripada enaknya.
Seperti yang pernah dialaminya, sejumlah pria remaja mengajaknya ke rumah kost, lalu diajak minum sampai mabuk. Setelah itu dikencani ramai-ramai.
“Sudah itu digabur atau dilepas begitu saja di suatu tempat yang cukup sepi,” katanya.
Lokasi yang paling sering dijadikan tempat untuk nggabur adalah Ring Road Selatan, yang relatif sepi dan jauh dari pemukiman penduduk.
Setelah kejadian itu, Tiyas menceritakan kepada teman-temannya. Ternyata pengalaman serupa juga pernah dialami oleh temannya. “Jadi kalau pelajar atau mahasiswa yang datang, siap-siap saja untuk kecewa,” katanya.
Bagaimana membedakan pelajar dan mahasiswa dengan pria yang sudah bekerja? “Kalau pelajar atau mahasiswa datangnya rombongan. Kalau yang sudah bekerja, biasanya sendirian,” ujarnya.
Karena ‘pintu’ sudah tertutup untuk mahasiswa dan pelajar, menurut Tiyas, biasanya mereka mengencani pelacur liar yang biasa beroperasi di Alun-alun Utara.
‘Ciblek Lanang’ Melayani Wanita Kesepian
CIBLEK lanang. Sebutan untuk ABG pria yang menjual diri di Yogyakarta. Seperti juga gadis remaja, mereka juga anak sekolah dan punya tempat mangkal sendiri-sendiri.
Mereka bersedia melayani siapa saja, pria homo atau wanita kesepian. Ciblek lanang yang rata-rata pelajar SLTA dan mahasiswa, juga banyak mangkal di mal dan pusat-pusat keramaian lainnya.
“Banyak pelancong wanita yang kesepian. Ya, mereka mencari kami untuk menemaninya jalan-jalan dan tidur di hotel,” kata Koko, ciblek yang sekolah di sebuah SMU di Yogyakarta itu menjelaskan. Pelancong wanita yang sering menggunakan ‘jasa’ mereka kebanyakan datang dari Jakarta.
Wanita ‘pemburu’ ciblek lanang rata-rata berusia muda. “Ada juga berumur 40 tahun. Dan sepertinya mereka sudah bersuami. Tapi soal itu kami tidak pernah tanyakan kepada mereka,” kata Koko.
Selain melayani pelancong, Koko juga kerap menemani para mahasiswi di rumah-rumah kontrakan atau kamar kos. “Bila melayani mahasiswi, saya sering diminta memakai kondom,” ujarnya.
“Tapi kalau dengan pelancong, jarang pakai kondom. Saya tidak tahu, mereka suka polos,” ujarnya.
Tarifnya? Untuk mahasiswa rata-rata Rp 25.000. Paling rendah Rp 15.000, “Tapi Rp 10.000 juga jadi kalau ceweknya cantik,” kata Koko. Sedangkan untuk pelancong wanita, Koko memasang tarif Rp 50.000 sampai Rp 100.000.
Ciblek lanang tampil sebagai ‘pemain AC DC’. Selain melayani wanita, juga melayani pria homo.
Bila ‘menjaring’ pria homo, mereka mencari mangsa di Alun-alun Utara dan di sebuah restoran di Jl Pasar Kembang. Mereka lebih luka dibawa pria bule.
“Orang bule itu tidak pelit,” kata Koko. Ia menjelaskan, para bule kebanyakan ‘mengencani’ mereka relatif cukup lama. ”Kalau mereka di Indonesia seminggu, kami dipakai seminggu pula. Tidak jarang diajak ke mana-mana,” ujarnya.
Koko, pria kelahiran Semarang itu, menjelaskan untuk aktivitas seksualnya dengan para homo selain sodomi juga oral seks. Bahkan tidak jarang ’69′. Istilah ini untuk menyebut melakukan oral seks secara berbarengan.
Kendati lebih menyukai pria bule, mereka juga sering mendapat ‘order’ dari pria lokal. Dari para homo, biasanya mendapat uang saku antara Rp 50.000 – Rp 150.000 serta ditambah ajakan makan di restoran serta menikmati udara luar kota.
Para ciblek lanang ini pada dasarnya terbagi dua jenis. Koko menjelaskan, ada satu kelompok homo yang berperan dirinya sebagai wanita, namun ada yang berperan sebagai pria. Yang sebagai wanita, ujar Koko, tidak harus berdandan seperti wanita, tetapi kegenitannya memang seperti wanita, dan mencari pasangan yang gagah. Sedangkan yang berposisi sebagai pria tentu akan mencari yang genit-genit.
Kenapa Koko bisa menyukai pria sekaligus wanita? Sejak kecil dirinya memang sudah menyukai sesama jenis. ”Saat saya sekolah di Yogyakarta ini, rekan duduk sebangku saya kebetulan hombreng. Dia yang mengajak saya mengenal dunia yang lebih luas. Tapi sebagai laki-laki saya juga sangat tertarik kepada wanita,” katanya.
Lain lagi cerita Dedy, pria yang sering mangkal di sebuah kafe di Jl Pasar Kembang. Putra seorang perwira menengah di Jakarta yang kini sedang menyelesaikan studinya di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta mengaku melayani pria homo hanya kesenangan semata.
Dedy ‘menjajakan’ dijalani sejak berada di Yogyakarta. Meski demikian, Dedy mengaku kenal dengan kehidupan homoseksual sejak masih duduk di SLTP. Saat itu, katanya, ia sering diberi uang dan diajak ke tempat-tempat permainan anak-anak oleh tetangganya. ”Ini saat papah masih dinas di Surabaya,” katanya. Oleh tetangganya inilah, Dedy mendapat kenikmatan homoseksual dan itu keterusan.
Lalu kenapa menjual diri? Dedy menjelaskan, semula memang tidak sengaja. Saat bersama-sama dengan rekan-rekan, ia sempat diajak ‘main’ oleh kenalan barunya. ”Bahkan saya jadi pacarnya selama beberapa bulan,” katanya.
Setelah putus dengan ‘pacarnya’ itulah, Dedy merasa kecewa dan bersamaan pula dengan makin seretnya kiriman dari orangtua, terpaksa mencari tambahan biaya. “Biaya kuliah serta bahan-bahan praktek sekarang harganya sangat mahal,” katanya.
Melayani pria homo, jelasnya memang bukan tujuan utama. Karenanya, katanya, tarif yang dipasang pun tidak selalu disodorkan. “Kalau saya mau melayani dan dia juga baik, kenapa harus pasang harga. Biasanya mereka tahu dan memberi tips setelah main,” katanya.
Pendapatannya memang tidak tinggi, rata-rata per bulan sebesar Rp 750.000 sesudah dikurangi biaya obat-obatan yang diperlukan. Ia sendiri mengaku tidak terlalu suka dengan orang-orang bule. Alasannya? Para bule agak kasar.
Seperti halnya Koko, ciblek lanang lainnya, Andi yang mengaku berasal dari Cirebon melayani pria homo sudah sekitar tiga tahun. Katanya, melayani para bule lebih mengasyikkan. Apalagi, dua tahun lalu sempat diajak jalan-jalan ke Swiss oleh pasangan bulenya, sekadar untuk menikmati liburan.
Orang-orang bule, lanjutnya, biasanya mengajak main dengan sepenuh hati. Artinya, mereka menikmati dan menjalani kehidupan seksualnya ‘sangat manusiawi’. “Pakai foreplay, cium-ciuman, sebelum main. Bahkan setelah main, mereka masih peduli. Beda dengan orang kita sendiri yang maunya langsung, habis itu pisah,” katanya.
Bersama-sama orang bule ini, ucapnya, biasanya selama mereka berada di Yogya akan menjadi pasangan tetapnya. Bahkan tidak jarang harus menemani ke obyek-obyek wisata yang menarik.
“Memang tidak ada tarif yang ditawarkan, tetapi orang bule ini senang menghambur-hamburkan uang. Seminggu bersama mereka bisa meraih uang kontan US$100 atau bahkan lebih, belum termasuk hadiah khusus seperti pakaian, jam tangan dan sebagainya,” katanya.
Berbeda lagi dengan Daniel. Pria keturunan kelahiran Medan ini dengan tegas mengungkapkan, jika mau meong harus bayar. Meong merupakan istilah di kalangan mereka untuk bermain seks. Baik itu anal maupun oral atau sekadar ‘GGK’ atau gesek-gesek kelamin.
Daniel yang masih duduk di sebuah SMU swasta di Kota Yogyakarta mengungkapkan, untuk sekali ajak yang biasanya dari malam sampai pagi, biasanya ia mendapatkan Rp 150.000.
SEMARANG – JAWATENGAH
Yang Kelas Kumuh dan Kelas Mewah
KETIKA berusia 10 tahun, tujuh tahun lalu, Noni sudah mulai mengenal pria. Saat itu ia disuruh ‘turun ke jalan’ di Semarang oleh ibu kandungnya, mengikuti jejak kakak perempuannya.
“Kami diharuskan menyetor sejumlah uang setiap hari,” cerita Noni mengenang masa lalunya. Tidak terlalu membekas dalam ingatannya, bagaimana pertama kali ia bergaul dengan pria.
“Sungguh, saya tidak ingat. Yang saya tidak bisa lupa adalah ibu marah-marah ketika saya pulang tidak membawa uang,” ujarnya. Ia sering kali disiksa, dipukul dengan gagang sapu, dan diseret keluar dari rumah karena pulang tanpa hasil.
Karena kenyang pengalaman di lapangan, saat ini Noni menjadi ‘bos’ sejumlah ABG di Semarang. Oleh anak buahnya ia dipanggil dengan sebuatn ‘mami’. Sebagai ‘mami’ muda, Noni juga melayani bila ada pria yang mengajak.
“Biasanya saya tawarkan anak-anak. Tapi sering kali pria memaksa agar saya yang menemaninya, ya, terpaksa untuk menyenangkan pelanggan,” ujarnya. ABG yang menjadi anak buah Noni tidak mangkal di mal atau di tempat-tempat hiburan seperti klub malam, karaoke, atau diskotek, mereka berkeluyuran di jalan-jalan.
Noni yang berwajah sensual ini gampang dijumpai di seputar Jalan Pahlawan, atau bisa menghubungi melalui handphone.
Kalau ada konsumen yang memesan, harganya bervariasi antara Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu. Yang tarif Rp 25 ribu sampai Rp 50 ribu juga disediakan oleh Noni.
Salah satu anak ‘asuhnya’ yang tergolong paling imut-imut adalah Wati, 12 tahun. Menurut gadis yang masih ‘bau kencur’ ini, dunia pelacuran dianggapnya lebih dapat memberikan hasil yang lebih besar dan lebih cepat, dibandingkan jika dirinya harus ngamen atau berjualan koran.
Sudah dua tahun Wati berada di ‘kegelapan malam’.
Awalnya, dalam usia l0 tahun, ia diperkosa tetangganya saat ia sedang tidur siang. Ketika kasus itu disampaikan kepada ibunya, Wati justru dimarahi habis-habisan. Belakangan baru diketahui, bahwa ternyata ibunya menerima imbalan sejumlah uang dari tetangganya itu.
Mulai saat itulah, Wati turun ke jalanan. Oleh teman-temannya yang dikenali di jalanan, diberi tahu bahwa cara paling gampang untuk mendapat uang adalah bersedia melayani laki-laki. Dan ternyata betul, baru beberapa hari ‘berkeliaran’ di jalan, Wati sudah mampu membeli pakaian bagus, kosmetik, serta seabrek kebutuhannya layaknya gadis-gadis belia. Bahkan ia sering kali diajak nonton, pergi ke diskotek.
Gaya hidup ternyata menjadi faktor utama yang mendorong menjamurnya pelacuran ABG di Semarang.
ABG-ABG kelas bawah bisa ditemui di daerah permukiman kaum urban atau daerah miskin seperti Bandarharjo, Gunung Brintik, Tandang, Mrican, dan berbagai perkampungan kumuh lainnya.
ABG jalanan di Semarang memang agak berbeda dengan ABG yang berada di ‘kelas atas’. Keinginannya untuk mencicipi gemerlapnya kehidupan malam adalah penyebab utama mereka menjual diri. Mereka bisa ditemui di sejumlah diskotek dan tempat hiburan lainnya.
Mereka tidak semata mencari uang, diajak ‘muter-muter’ naik mobil mewah, sudah bisa dibawa masuk kamar. Penampilan mereka memang cukup mendebarkan, mengenakan busana trendy beserta segala aksesoris, sepatu bermerek, parfum impor, dan handphone.
Mereka juga bisa digaet dengan sebutir pil ekstasi, “Asal diberi sebutir pil, saya bersedia melanjutkan acara ke hotel,” tutur Titin. Gadis 17 tahun yang sudah biasa keluar-masuk diskotek itu, mengaku orang tuanya tidak terlalu peduli dengan kebiasaannya pulang malam.
Gadis berambut pendek dengan alis mata tebal itu mengakui tak sembarangan memilih pasangan kencannya. Dia juga tidak memasang jerat di plaza, mal, atau pusat-pusat pertokoan layaknya teman-temannya. Maklum, dia sudah cukup lama terjun menjajakan dirinya. Sehingga tahu persis lelaki yang berkantong padat atau sebaliknya.
Hasrat Titin untuk menelan pil, katanya, dilakukan karena ia ingin melupakan berbagai persoalan yang ada di rumah. Dalam usia 15 tahun Titin yang hidupnya serbakekurangan itu telah dikawinkan oleh orang tuanya. Tetapi karena perkawinan itu sendiri memang bukan kehendaknya, maka ketika melahirkan anak pertamanya Titin langsung minta cerai.
Dalam kondisi mental yang labil, secara kebetulan seorang tetangganya mengajaknya ‘dolan-dolan’ ke sebuah diskotek di Jl Gajahmada, Semarang. ”Di situlah pertama kali saya mengenal inex, dan pertama kali pula saya menerima tamu lelaki di hotel. Lumayan juga, diberi uang saku Rp 150.000,” kenangnya.
Keenakan dengan inex, mulailah Titin menjadi kecanduan obat. Bahkan di lingkungan dunia malam ia dikenal sebagai pecandu berat.
Secara terbuka Titin mengakui, kini dia bahkan sudah mencapai dosis yang berlebihan. Sebutir pil tak lagi mempan membuatnya jadi on. Dia kini sudah mulai bermain-main dengan jenis sabu-sabu yang juga banyak dijual bebas di Semarang.
Rasanya? ”Oh, lebih nikmat dan lebih panjang. Apalagi kalau digunakan untuk bercinta, luar biasa,” ujarnya mengaku terus terang.
Setiap malam dia biasa melayani tamunya dua orang di sebuah kamar hotel di kawasan Gombel. Tak merasa capai? Dengan mata berbinar Titin justru memaparkan fantasi seksual yang sangat luar biasa. “Karena itu, pada tamu-tamu tertentu saya menyimpan nomor handphone-nya,” ucapnya genit.
Lain lagi dengan Ina, 16 tahun, yang juga sangat menyukai dunia malam. Tetapi tidak gampang untuk diajak chek in ke hotel. “Yang saya lakukan hanya untuk menemani tamu. Kalau menemani tamu biasanya saya mendapatkan tips, selain minum-minuman yang enak. Tetapi kalau tamunya mau cari booking-an, saya carikan teman lain yang mau. Biasanya setelah itu saya diberi uang lagi oleh tamunya,” ujar Ina.
Dari pengakuannya Ina memang cukup selektif memilih cowok pasangannya. Selain masih sebaya dan sama-sama muda, syarat yang lain juga harus naik mobil sendiri. “Kalau tidak selera lebih baik pulang tidur saja Mas,” ujarnya.
Ina mengaku kurang menyukai lelaki yang jauh lebih tua dari usianya. Alasannya, karena dia masih menyukai cara-cara berpacaran dibandingkan dengan ‘jual-beli’. Karena itulah, ia tidak pasang tarif tertentu. “Asal saya suka, cukup sekadar ongkos taksi saja,” katanya.
Pelacur ABG di Semarang juga disebut ciblek. Selain di diskotek, para pelacur ABG ini juga banyak ditemui di kafe-kafe atau kedai-kedai lesehan kawasan Simpang Lima, Jl Pahlawan, Jl Pemuda atau Jl Pandanaran. Mereka biasanya selalu bergerombol dua-tiga orang, sambil minum minuman hangat.
TASIKMALAYA – JAWABARAT.
Menggaet Mangsa di Depan ATM
SEORANG gadis remaja berdiri di antara antrean orang-orang yang akan melakukan transaksi di sebuah ATM di salah satu mal di Jl HZ Mustofa, Tasikmalaya, Jawa Barat.
Keke nama gadis itu, usianya 16 tahun. Antre di depan ATPM adalah cara gadis ABG satu ini dalam menggaet mangsanya. “Yang mengambil uang di sini pasti banyak uangnya,” kata Keke yakin. Ia menuturkan, teman-temannya juga melakukan cara itu.
Di Tasikmalaya, gadis ABG semacam Keke, disebut anyanyah. Melihat gaya Keke, sepintas sangat polos.
Namun di balik kepolosannya itu, putri ketiga dari empat bersaudara yang kini yng masih duduk di bangku kelas III salah satu SLTP swasta di Tasikmalaya (Jabar), ternyata menyimpan banyak pengalaman yang tidak kalah bersaing dengan wanita tuna susila (WTS) yang sudah kenyang pengalaman, termasuk pengalamannya berkencan dengan pria dari berbagai kelompok usia.
Kalau melihat latar belakang keluarganya, Keke tidak semestinya terjun ke dunia prostitusi ABG. Karena sang ayah adalah mantan pejabat teras di Tasikmalaya yang kini beralih profesi menjadi pengusaha sukses di Ciamis.
Keke mulai terjun ke dunia prostitusi ABG sejak kelas II SLTP, ia memiliki wajah dan postur tubuh yang tidak kalah menariknya dengan artis-artis ABG yang sering kita lihat di televisi.
Sepintas Keke mirip artis bom seks Sarah Azhari yang terlibat kasus foto porno. Wajar apabila banyak orang yang ingin tahu, apa sebenarnya yang melatarbelakangi gadis cantik sampai terjun ke dunia prostitusi.
Keke menceritakan pengalamannya mulai dari serbaketakutannya menghadapi dunia di luar rumahnya, hingga timbul keberanian melayani pria hidung belang. Bahkan, Keke tidak menyadari bahwa dirinya kini sudah menjadi wanita penghibur papan atas dan menjadi gadis rebutan pria berduit.
Bermula dari kecemburuannya terhadap wanita simpanan bapaknya, umur si wanita tersebut tidak jauh dari umurnya. Keke sempat tergoncang, apalagi setelah mengetahui orang tuanya bercerai, terlebih yang melatarbelakangi perceraian orang tunya itu setelah ibunya mengetahui ayahnya berselingkuh dengan wanita lain. Setelah orang tuanya bercerai, Keke memilih tinggal bersama ayahnya, karena Keke masih membutuhkan biaya sekolah.
Kecemburuan Keke semakin menjadi, setelah ia sering melihat ayahnya berduaan dengan teman kencannya, ditambah pernah memergoki ayahnya sedang bermesraan dengan pacarnya di ruang tamu.
Lalu lama-kelamaan Keke merasakan ada gejolak seks di tubuhnya, ditambah dengan keseringan nonton VCD porno bersama teman-teman sekolah.
Semula Keke menolak saat diminta menceritakan pengalamannya terjun ke dunia prostitusi, “Sudahlah, saya jadi menyesal menuturkan segala pengalaman saya, tapi tidak apalah itu kan pengalaman yang tidak mungkin terlupakan,” kata Keke dengan nada suara sedikit gugup. Kegugupan Keke sangat kelihatan sekaligus mencerminkan bahwa dirinya belum lama terjun ke dunia prostitusi.
Keke meminta agar tidak ditulis nama lengkapnya. ”Maklum ayah saya sering baca koran dan pengalaman saya ini takut dibaca keluarga saya di rumah,” kata Keke.
Keke juga berkencan dengan pria asing. Kencan terakhirnya dengan pria setengah baya warga negara Jepang yang baru dikenalnya dua hari di pusat perbelanjaan.
Meski usianya masih muda belia, Keke lebih suka berkencan dengan usia jauh di atasnya. Menurutnya, berkencan dengan pria setengah baya sangat menyenangkan serta tidak banyak menuntut. Berbeda jika berkencan dengan usia muda. Menurutnya, selain rewel juga banyak menuntut yang aneh-aneh.
Keke menuturkan, berkencan dengan pria warga negara asing lebih mendalam. Pria asing jika berkencan seolah dirinya dianggap istrinya sendiri. ”Malah ujung-ujungnya, pria asing tersebut ingin menikahi saya,” aku Keke seraya tertawa.
Di seputar Jalan HZ Mustofa, Kotif Tasikmalaya, memang tempat nongkrong pada ABG. Mereka biasanya menikmati hidangan kafetaria yang terletak di lantai II gedung pusat perbelanjaan.
Tarif mereka bervariatif mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 500.000 sekali kencan. Tidak hanya itu, mereka juga memasang tarif khusus bila kencan tidak sampai berhubungan badan.
Misal bila hanya ingin memegang payudara, si pria iseng akan dikenakan tarif Rp 15 ribu, paha Rp 10 ribu, berciuman Rp 25 ribu, dan memegang alat vital Rp 50 ribu.
Para pelacur ABG yang di Tasikmalaya dikenal dengan sebutan anyanyah ini tidak hanya nongkrong di pusat perbelanjaan (mall-dept store) melainkan di sejumlah cafe dan hotel.
Misalnya di Hotel Padjadjaran Jalan Ir H Juanda dan Hotel Ramayana Jalan Raya Indihiang. Para pelacur ABG mulai melakukan aksinya sekitar pukul 21.00 WIB. Cara mereka untuk menarik perhatian pria hidung belang sangat beragam.
Ada yang memberikan nomor hand phone-nya ke pegawai hotel, juga ada di antara mereka ada yang langsung menunggu di ruang tamu hotel. Cara demikian sering dilakukan oleh ABG yang sudah memiliki germo resmi. Tarif mereka antara Rp 150 ribu sampai dengan Rp 300 ribu.
“Itu bukan harga mati, apabila si pria bisa merayunya harga untuk berkencan tidak sampai demikian, bisa saja gratis atau hanya membayar kamar hotel. Jadi gimana kitanya,” ujar salah seorang karyawan hotel di Tasikmalaya.
Cara lain yang lebih unik yang banyak dilakukan oleh para pelacur ABG yakni dengan berpura-pura belanja atau sekadar mengambil uang di ATM yang terletak di dalam mal, cara unik ini tidak bisa dilakukan oleh pelacur ABG sembarangan, karena dengan cara tersebut hanya pelacur ABG berparas cantik dan berpenampilan glamour yang bisa melakukannya. Dengan cara demikian, pria yang berhasil mereka pancing kebanyakan orang menengah ke atas.
Sejak merebaknya sejumlah mal dan departement store di Tasikmalaya, para pelacur ABG semakin merajalela. Kebanyakan para ABG masih berstatus pelajar (SLTP dan SMU) serta mahasiswi.
CIANJUR – JAWA BARAT
Salah-salah, Bisa Terperangkap yang Palsu
BILA Anda ke Cianjur dan bertemu seorang gadis dengan tahi lalat di dagu sebelah kiri, kulit putih, hidung mancung, dan tingginya 165 cm. Dia adalah Dian, putri salah seorang pegawai bank milik pemerintah di daerah berhawa dingin itu.
Dian yang baru saja tamat SLTA, terjun ke ‘dunia hitam’ sejak di kelas 1 SLTA. “Pacar saya tidak bertanggung jawab,” katanya. Ia bercerita, kegadisannya direnggut oleh sang pacar, lalu ditinggal pergi. Ia kebingungan dan putas asa.
Dalam kondisi yang tidak menentu itu, ia bertemu dengan seorang teman yang menjanjikan bisa memberikan ketenangan. “Saya diberi pil dengan bayaran Rp 30.000. Saya jadi lupa segalanya,” katanya. Ia kemudian ketagihan.
Dian biasa nongkrong di salah satu diskotek. Ia sering kali mengenakan T-shirt kuning dan celana hitam. Lalu bagaimana menggaet Dian. Tidak terlalu susah, “Beliin saja dia 10 butir, pasti dia mau,” kata seorang germo bernama Helmy. Ketika ditelusuri, ternyata Dian ini memang anak seorang pejabat bank pemerintah di Cianjur dan tinggal di kawasan elite. Dian tidak terlalu memilih pasangan, yang penting disediakan pil ‘gila’ itu.
Untuk mendapatkan 10 butir ekstasi. Helmy bisa mengusahakan dalam waktu sekejap dengan harga Rp 30.000 per butir.
Menurut pengakuan Dian, selain karena perlakuan pacarnya, ia juga merasa tidak betah di rumah. “Ibu dan bapak sering bertengkar, tanpa saya tahu penyebabnya,” kata Dian.
Dian belum berniat untuk kuliah. “Orang tua juga tidak memaksa saya, yang penting saya happy dulu deh,” katanya.
Bila diajak, Dian tidak pernah menuntut bayaran. Ia lebih mengutamakan bersenang-senang, “Untuk kebutuhan sehari-hari, saya cukup,” ujarnya.
Lain lagi cerita Novi. Gadis berusia 16 tahun ini, memang mencari uang. Saat ini sekolah di sebuah SLTA swasta di Cianjur. Gadis berkulit putih dengan tinggi 162 cm, datang ke Cianjur awal 1997 untuk melanjutkan studi. Dia sendiri berasal dan lahir di sebuah desa, di Kecamatan Sindangbarang, sekitar 120 kilometer dari Kota Cianjur.
Uang bulanan yang dikirim ayahnya yang menjadi petani, ternyata tidak mencukupi untuk kebutuhan hidup di Cianjur. “Hanya diberi uang Rp 100 ribu tiap bulan, sangat tidak cukup untuk seorang gadis seperti saya,” ujarnya.
Setelah satu tahun di Cianjur, dia mulai mengenal yang namanya diskotek dan kehidupan malam lainnya. Sampai suatu ketika, dia diajak teman sekolah pria, Michael, ke sebuah hotel di kawasan Puncak dan dikenalkan kepada pria setengah baya yang menghuni sebuah kamar di hotel berbintang. ”Saya diminta melayani laki-laki itu selama dua jam,” kata Novi.
Sejak saat itulah dia menjadi ketagihan, karena mendapat uang secara mudah. Diakui pula, pertama menerima uang sebesar Rp 200 ribu, itu pun melalui teman prianya tadi.
”Saya sendiri tidak tahu berapa yang diberikan kepada teman pria saya itu,” katanya polos. Selanjutnya, teman prianya itulah yang menjadi ‘manajer’ sampai saat ini.
“Kebetulan Michael di rumahnya punya telepon, jadi segalanya lancar,” ungkap Novi, yang mengaku hingga kini masih kos di sebuah kamar ukuran 2 x 3 meter dengan biaya sewa Rp 50 ribu/bulan.
Gadis berwajah oval ini, memasang tarif untuk short time antara Rp 200 ribu hingga Rp 300 ribu. ”Tapi kadang-kadang bisa Rp 150 ribu atau Rp 100 ribu bila saya suka kepada yang mem-booking saya,” katanya.
Penghasilannya dibagi 60:40 dengan Michael. Tapi dia tidak mau diajak menginap. ”Takut ketahuan ibu kos,” tambahnya.
Umumnya, tarif ABG di Cianjur antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu. Selain di diskotek di kawasan Puncak, mereka bisa dijumpai di beberapa salon kecantikan.
Di daerah itu, ada dua ‘jenis’ ABG, yaitu anak sekolahan dan ABG ‘liar’. Yang masih sekolah biasanya tinggal di rumah kos atau rumah orang tuanya. Sedangkan yang ‘liar’ kebanyakan tinggal di rumah kontrakan.
Kendati ciri-cirinya sudah diketahui, untuk bisa bertemu ABG ‘murni’ di Cianjur memang gampang-gampang susah. Salah-salah, malah bisa bertemu dengan wanita yang menyamar sebagai ABG.
Besarnya minat para hidung belang kepada ABG ini justru dimanfaatkan germo-germo di lokalisasi WTS. Mereka mendandani WTS muda usia, dan meng-up grade-nya seolah-olah WTS itu pelajar yang sering pula menyebut-nyebut nama sekolah tertentu. Harga WTS itu kemudian menjadi mahal dan menjadi saingan para ABG. Tidak jarang para WTS itu mangkal di kafe-kafe dan diskotek dengan lagak seorang pelajar.
ABG tidak ‘bertindak’ sendiri-sendiri, selalu menggunakan perantara.
Para germo, juga dari kalangan pelajar atau karyawan. Ruddy, 28 tahun, misalnya karyawan sebuah BUMN di Cianjur, menjadi perantara ABG berawal dari rapat kerja badan usahanya tempat dia bekerja yang dihadiri pejabat di tingkat pusat.
”Saat itu saya disuruh pimpinan saya di Cianjur untuk mencari sedikitnya delapan ABG yang bisa dikencani bos-bos dari Jakarta,” katanya.
Memang, awalnya cukup rikuh, tapi lama-lama jadi terbiasa ”Setiap ada meeting/rapat kerja yang memerlukan partai besar, saya selalu dihubungi, baik itu dari perusahaan saya sendiri maupun instansi lain yang membutuhkan. Tapi saya lihat-lihat dulu orang yang menghubungi saya, bisa dipercaya atau tidak,” kata Rudy.
Seorang karyawan hotel di kawasan puncak, Andri, juga sering menjadi pemasok ABG bagi tamu-tamu hotelnya baik rombongan maupun perseorangan. “Biasanya jika hendak memesan, harus satu hari sebelumnya,” kata Andri.
Alasannya, dia harus mengontak dulu para ABG itu masing-masing di sekolahnya. Ia tidak segan-segan menyebut nama-nama sekolah para ABG yang bisa dihubungi.
“Biasanya kami ketemu di warung-warung sekitar sekolah, dan saya mengaku sebagai keluarga mereka dari daerah. Setelah itu kami janjian ketemu di suatu tempat,” kata Andri.
Biasanya tempat rendezvous berikutnya di sebuah restoran di bilangan Jl Mangunsarkoro atau di salon-salon kecantikan.
Selain menggunakan jasa germo terselubung, kalangan ABG bisa dijumpai di diskotek-diskotek di kawasan Cipanas, Puncak, setiap malam Sabtu dan Minggu. Mereka biasanya bergerombol dan membawa teman pria yang berfungsi sebagai perantara. (Bersambung9)

BATAM- SUMUT.
“SAYA hanya mencari uang,” kata Tati. Gadis berusia 15 tahun itu, bisa ditemukan di salah satu karaoke di Nagoya, Pulau Batam. Ia dipajang dalam etalase dengan nomor dada 16.
Di dalam etalase, Tati selalu tersenyum. Ia sengaja duduk dengan menopangkan kaki kakan di atas kaki kirinya, sehingga rok mini yang dikenakan sedikit tersingkap.
Bagaimana cara berkenalan dengan Tati? Seorang petugas di tempat itu akan dengan gampang memanggil Tati ke luar etalase, jika menyebut angka yang terpampang di dadanya. Bukan hanya Tati, puluhan gadis lain yang dipajang di tempat itu, bisa keluar dengan sekali menyebut angka.
Belakangan ini, Batam sudah menjadi ‘gudang’ pelacur ABG. Jumlahnya bisa mencapai ribuan orang. Para gadis berusia antara 14 sampai 19 tahun ittu ditampung di ratusan rumah toko (ruko) di kawasan Nagoya dan Sei Jodoh. Pada malam hari, mereka menjadi ‘pemikat’ di sekitar 30 tempat hiburan yang tersebar di Batam.
Umumnya tempat hiburan seperti diskotek, karaoke, panti pijat, menyimpan sekitar 50 sampai 100 orang wanita muda yang masih tergolong ‘anak baru gede’ (ABG) sebagai karyawan untuk menjaring tamu-tamu yang haus hiburan.
Kecuali pub, hampir semua tempat hiburan menyimpan wanita. Meski tidak langsung terlihat di etalase tempat hiburan, karena ada larangan dari pemerintah dan Otorita Batam, namun hampir tidak ada tempat hiburan yang tidak menyediakan wanita.
Di setiap tempat hiburan itu, para ABG dikordinasi oleh seorang germo, yang biasa dipanggil dengan sebutan mami. Jika ada yang memesan, si mami dengan gampang menuntun para ABG seperti Tati untuk duduk di samping pria.
Tati mengaku, berasal dari sebuah desa di Jawa Barat. Ia datang ke tempat itu bertujuan mencari uang sebanyak mungkin. Untuk itu ia belajar berbagai hal, termasuk memilih parfum yang bisa memancing gairah pria. Ia juga sudah pandai menyanyi.
Tati juga sudah terbiasa menyapa orang dengan bahasa yang sangat santun. Bila bicara dengan pria, dia selalu merapatkan mulutnya ke telinga lawan bicaranya, dengan napas agak diembuskan. “Itu cara mengundang pria,” katanya.
Dengan berbagai cara, Tati selalu berupaya agar pria yang ditemani bisa langsung mengajaknya ke ‘lantai atas’. Sebutan untuk tempat tersedianya kamar tidur.
“Semakin banyak pria yang saya temani, semakin besar penghasilan saya,” katanya. Itu makanya, Tati selalu mencari akal agar pria yang didampingi bisa segera di ajak ke ‘lantai atas’.
Sebagai wanita pencari uang, Tati tidak pernah memilih teman kencannya. Dia bersedia menerima siapa saja, “Saya sering melayani pria tua dari Singapura,” katanya.
Tati merasa betah di tempat itu. Sejak datang dari Jawa Barat, Tati telah dua kali memperpanjang kontrak dengan perusahaan tempatnya bekerja. Satu ikatan kontrak lamanya empat bulan. Sepanjang waktu itu, dia tidak boleh keluar kecuali seizin mami atau diboking pria.
“Kontrol terhadap kami sangat ketat, sehingga tidak bisa sesuka hati pergi ke suatu tempat,” katanya. Germonya, harus tetap mengetahui di mana posisi mereka setiap saat, karena kadang-kadang ada ‘pesanan’ mendadak.
Di perusahaan itu, ada sekitar 80-an wanita seperti Tati. Untuk membawa mereka selama 1 malam, harus membayar Rp 300.000. Mereka boleh dibawa sore hari atau malam hari, sampai besok harinya paling lambat pukul 09.00 WIB.
Mereka hanya memperoleh sebagian kecil dari tarif yang dikenakan oleh pengelola hiburan. Itu sebabnya, para ABG banyak yang memilih untuk tinggal di luar agar gampang menjaring pelanggan tanpa ikatan.
“Kami hanya mendapat Rp 40.000 untuk short time, sementara untuk satu malam, kami hanya mendapat Rp 100.000,” ujar Iis, 16 tahun. Pengaturan tarif sebesar itu dilakukan karena untuk short time, perusahaan memberikan Rp 40.000 untuk sewa kamar, Rp 20.000 bagi sopir taksi atau pengantar, dan Rp 60.000 ke perusahaan.
Setelah uangnya terkumpul, mereka biasanya pulang kampung. “Tapi tidak selalu banyak dibawa ke kampung, karena banyak potongan tinggal di sini,” ujar Titi, 18 tahun. Pada masa kontrak empat bulan lalu, Titi mengaku hanya membawa uang sebesar Rp 2 juta ke kampung.
Wanita berkulit kuning langsat itu mengakui dirinya memang boros. Majikannya sering membawa pakaian-pakaian yang menarik dan dibagikan kepada mereka, yang mengambil harganya dihitungkan pada akhir masa kontrak. Umumnya harga pakaian itu jauh di atas harga normal.
Akibat pemerasan oleh majikan itu, banyak ABG yang melarikan diri, “Karena tidak ada uang masuk, sementara biaya hidup di sini semakin tinggi,” ujar Yayang, 17 tahun. Semula, wanita penghuni karaoke tempat Yayang bekerja berjumlah 120 orang, sekarang tinggal 60 orang.
Di luar tempat hiburan, terdapat ABG yang memang berasal dari Batam atau daerah sekitarnya dan masih sekolah di SLTA. Tapi jumlahnya hanya sedikit. Mereka bisa ditemukan di pusat keramaian Nagoya, Pelita, dan Jodoh, Batam Timur.
ABG-ABG itu juga biasa mangkal di sejumlah diskotek, Lucky Plaza dan hotel-hotel. Cirinya, mereka menggunakan pakaian dengan dada terbuka, sepatu hak tinggi, serta menyandang tas kecil di punggung. Mereka keluar dari rumah sekitar pukul 21.00 WIB hingga tengah malam.
Konsumen wanita ABG ini cukup beragam. Mulai dari pemuda yang bekerja di sejumlah industri atau sektor informal, hingga pria tua bangka dari Singapura atau Malaysia.
Bahkan sejumlah pria berumur dari Singapura menjadikan para ABG itu sebagai istri simpanan.
Mereka diberi biaya hidup yang memadai, yakni mulai dari Sin$500 per bulan hingga Sin$1.500 per bulan. Atau jika dirupiahkan, para istri simpanan itu akan menerima tunjangan biaya hidup sebesar Rp 1 juta hingga Rp 4 juta per bulan.
Mereka akan berada kembali di ‘remang’ malam begitu ‘suaminya’ pulang ke Singapura. Para istri simpanan itu, tidak terlalu susah digaet. Mereka bisa diajak ke diskotek hanya dengan modal ekstasi.
Manado – Sulawesi Utara
SYENY marah-marah ketika seorang pria memberinya uang setelah selesai berkencan, “Memangnya saya pelacur. Saya tidak sudi dibayar,” katanya dengan nada tinggi, sambil bergegas meninggalkan kamar sebuah hotel di Manado, Sulawesi Utara.
Gadis berusia 16 tahun, siswa sebuah SMU di Manado itu, menceritakan pengalamannya berkencan dengan seorang eksekutif muda, hanya untuk mencari pengalaman.
“Biasanya orang yang lebih dewasa, lebih berpengalaman,” ujarnya. Pengalaman yang hendak ditimba dari pria dewasa, akan ‘ditularkan’ lagi kepada pacarnya.
Syeny biasa berkeluyuran dari satu diskotek ke diskotek lainnya. Bila akan menggaet ‘mangsa’ di dalam diskotek, Syeny selalu mencari pria yang duduk sendirian. “Saya ajak dia berbincang-bincang. Biasanya berakhir di kamar hotel,” ujarnya.
Ia tidak mau mendekati sembarangan pria. Pilihannya, yang kelihatan berwibawa, dewasa, necis, dan ganteng. Pria dengan ciri-ciri seperti itu, menurut Syeny, tidak perlu diragukan lagi, pasti kantongnya tebal, “Tapi saya tidak pernah mengincar kantong pria. Tapi saya percaya, pria berkantong tebal pasti memiliki banyak pengalaman dengan wanita. Itu yang ingin saya dapatkan,” tuturnya.
Gadis berkulit bersih itu berterus terang bahwa dirinya agak ‘gila’ seks. Pertama kali, ia melakukan hubungan seks dengan pacarnya setelah menonton VCD porno di rumahnya. Hubungan kedua, ketiga, sampai kelima kali tetap dilakukan dengan sang pacar. Tetapi Syeny merasakan tidak ada variasi, tidak seperti yang ditonton di VCD.
Didorong oleh keinginan mendapatkan ‘perubahan’ ia mencoba-coba mendekati pria yang sedang menyendiri di sebuah diskotek, “Rasanya memang berbeda,” ujarnya. Setelah itu, Syeny pun terperangkap dalam pelukan sejumlah lelaki hidung belang.
Bicara soal diskotek, Syeny memang anak diskotek. Ia sudah menjelajah semua diskotek yang ada di Manado. Ia acap kali masuk ke tempat hiburan itu bersama pacarnya. “Tapi sekarang saya ke diskotek bersama teman-teman wanita. Kadang-kadang juga sendiri,” tuturnya.
Ketika ia mengincar seorang pria di dalam diskotek, teman-temannya pun melakukan hal serupa. Tetapi teman-temannya kebanyakan bertujuan mencari uang, “Sekadar tambahan uang jajan,” kata Sisca.
Tarif yang dipasang para ABG itu bervariasi antara Rp 100.000 sampai Rp 300.000. Soal tarif, tergantung tampang dan sikap pria. Bila ganteng dan menyenangkan, bisa dapat harga murah.
Tidak setiap malam mereka bisa mendapatkan pria, karena harus bersaing dengan wanita lain yang memang sudah terkoordinasi dengan rapi, “Kami harus bergerilya, dan berpura-pura sudah mengenal pria yang kami dekati,” kata Sisca.
Selain di diskotek, mereka juga sering bergentayangan di mal. Salah satu mal yang dijadikan tempat mangkal para gadis ABG di Manado, adalah mal di Jl Sam Ratulangi, yang berhadapan persis dengan markas Korem 131/Santiago.
Di mal tersebut, mulai tengah hari sampai menjelang tutup, banyak gadis ABG yang berkeliaran. Cara mereka memancing pria nakal, berpura-pura menunggu seseorang sampil berusaha tersenyum bila bertatapan dengan seorang pria.
Di tempat-tempat terbuka seperti di mal-mal, para ABG Manado biasanya mondar-mandir. Cara jalan mereka persis sedang beraksi di atas cat-walk. Dan untuk mendapatkan mereka, tak perlu main kucing-kucingan. Biasanya diawali dengan makan bersama atau belanja. Seterusnya, terserah Anda, bisa di motel di luar kota, atau di hotel.
Para pria yang sering berkencan dengan ABG pun sudah hafal betul gaya mereka. Bila menjumpai ABG yang tersenyum, langsung didekati dan ngobrol ‘ngalor-ngidul’ sebentar, kemudian mencari tempat.
Menurut Meity, gadis ABG yang mangkal di mal tersebut, paling enak menggaet pria yang dari luar kota, “Biasanya saya berpura-pura menyapanya. Bila ada tanda-tanda dia suka, ya kami berangkat. Biasanya saya yang menentukan tempatnya, kalau dia tidak tinggal di hotel,” katanya.
Uang yang diperoleh Meity setiap bulannya bisa mencapai Rp 1 juta. Ia tidak bisa menghitung penghasilan harian, “Kan tidak setap hari. Lagi pula saya tidak serius mencari uang dengan cara ini, hanya iseng,” kata gadis berambut pendek, berusia 18 tahun itu.
Bicara mengenai uang, memang agak peka di kalangan ABG Manado, “Jangan pernah bicara uang saat sebelum, sedang, maupun sesudah main. Itu tabu. Kalau memang mau kasih, silakan,” ujar Joice, 17 tahun, rekan Meity.
Salah seorang pria yang sering berkencan dengan ABG mengatakan, ia hampir tidak pernah mengeluarkan uang dalam berkencan dengan ABG. Ia mengeluarkan uang paling untuk membeli makanan dan sewa kamar hotel.
“Di sini yang diperlukan adalah semangat hunting. Daya juang seorang pemburu memang diuji di Manado. Seorang pemburu terkadang tak perlu modal uang, tetapi kewibawaan dan kecerdikan. Sebab, ABG di Manado sangat sok gengsi. Mereka berani melempar bundelan uang jutaan ke luar mobil, bila tersinggung. Mereka tidak gila duit. Jangan bergaya sok kaya di hadapan mereka. Wajar-wajar saja, necis, dan sopan,” kata Ruddy, 45, seorang eksekutif muda yang cukup berpengalaman bergaul dengan para ABG itu.
Wilayah operasi para ABG Manado memang tak sulit dijumpai. Selain lokasi di seputaran mal di Jalan Sam Ratulangi, baik di luar maupun di dalam gedung, para ABG Manado dapat pula ditemui di sejumlah kafe di Manado Boulevard, atau di beberapa tempat hiburan malam.
Sangat sulit menjumpai mereka di hotel-hotel berbintang. “Itu sudah pasarannya wanita bayaran,” ujar Joice.
Joice menuturkan, ia tidak mau dibawa terlalu lama, apalagi diajak ke luar kota, “Saya mesti ada di rumah paling lambat pukul 19.00,” kata Joice. Ia tidak mau orang tuanya mencurigainya.
ABG Manado senang ‘bermain’ dengan para eksekutif muda dan tanpa harus dibayar, selain untuk kepuasan, juga ada sesuatu yang cukup besar yang mereka incar, yaitu pekerjaan.
“Banyak juga kawan kami yang bisa memperoleh pekerjaan di beberapa perusahaan bonafid, apakah itu di Manado, Bitung, bahkan di Jakarta dan kota-kota lainnya, hanya karena makin akrab berhubungan dengan para eksekutif muda,” ungkap Meity. (Bersambung11)
KALIMANTAN TIMUR

“DI SEMAK-semak saja,” kata Elin, ketika diajak melanjutkan ‘acara’ ke sebuah hotel di Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan, Kalimantan Timur. Ia merasa tidak aman masuk ke hotel dengan pakaian sekolah.
Gadis dari pedalaman Kalimantan yang berusia 17 tahun itu bercerita, ia biasa berkencan di balik pohon. “Saya tidak biasa di hotel. Di tempat lain juga boleh, pokoknya jangan di hotel. Di semak-semak juga tidak apa-apa, tidak ada yang lihat. Kan cuma sebentar,” katanya.
Umumnya kencan dilakukan di semak-semak, atau di balik pohon, di tempat kost bila siang hari, atau di atas kapal yang banyak bertambat di daerah ini, atau bahkan di dalam mobil.
Para ABG paling takut bila diajak kencan di hotel maupun penginapan setempat. Kalaupun bersedia, maunya hotel atau penginapan di Kota Madia Turakan, sekitar satu jam setengah dari Tanjung Selor, bila menggunakan long boat.
ABG yang bisa diajak kencan di Tanjung Selor, banyak berkeliaran menjelang masa ulangan umum. Menurut Elin, banyaknya ABG yang ‘turun ke jalan’ pada saat-saat seperti itu karena mereka membutuhkan uang untuk keperluan sekolah.
Elin mengakui bahwa mereka yang dari pedalaman sangat kekurangan uang. Untuk membiayai kehidupan sehari-hari memang mencukupi, tapi bila kebutuhan uang mulai agak besar seperti menjelang ulangan umum atau ujian, mereka hampir tidak berdaya. Orang tuanya yang berada jauh di pedalaman hanya petani atau peladang berpindah.
Ketika berangkat dari kampung halamannya untuk melanjutkan sekolah ke kota, mereka memang sudah dipersiapkan sedemikian rupa oleh orang tuanya agar terhindar dari ‘malapetaka’ kehamilan. Seperti Elin misalnya, untuk ‘menjaga diri’ agar tidak hamil, oleh ibunya ia diberikan jarum yang sudah dimantera-mantera.
Setiap hari menjelang keluar rumah atau mau berkencan, ia merendam jarum bermantera itu ke dalam segelas air, lalu airnya diminum. Sampai sekarang, Elin aman-aman saja kendati sudah berkali-kali melakukan hubungan seks.
“Berbahaya bila tidak minum air jarum,” katanya. Ia menceritakan pengalaman temannya yang kehilangan jarum bermantera, setelah berkencan temannya itu hamil dan melahirkan anak tanpa ayah. Kemudian menjadi pelajar di Tarakan.
Banyak sudah gadis remaja di kota itu karena terlalu sering melakukan seks bebas, kemudian terjerumus menjadi pelacur. Menurut Elin, selain karena persoalan tersebut, banyaknya ABG menjadi pelacur karena ulah sejumlah oknum aparat.
Para ABG itu, tadinya merasa aman bila berhubungan dengan mereka, yang di sana dikenal dengan istilah kombet. Para kombet, awalnya melindungi mereka dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab, tapi ujung-ujungnya para gadis itu dijual.
Seperti pengalaman Inge, juga berhenti dari SLTA saat mengetahui ada janin bayi dalam perutnya, ‘hadiah’ dari seorang oknum aparat kepolisian dari satuan provost. Pacaran tetap berlanjut, hingga menyeberang ke Tawan, Malaysia.
Di Tawan, janinnya digugurkan. Sementara sang pacar bolak-balik Tawan-Tanjung Selor karena masih berdinas di Polres Bulungan. Singkat cerita, menurut Inge yang masih takut menyebutkan nama pacarnya tersebut, Inge dijual kepada para hidung belang di Tawan, berkisar seharga 200 hingga 250 ringgit Malaysia atau berkisar Rp 360 ribu hingga Rp 450 ribu untuk setiap kali kencan.
Menurut Inge, jaringan penjualan gadis ABG ke Tawan cukup rapi. Pada pedagang gadis lengkap dengan mata-mata dan tukang pukulnya. Mereka umumnya orang Indonesia yang memiliki kebebasan keluar masuk ke negara tetangga itu. Harga seorang wanita, dihargai cukong 4.000 ringgit atau Rp 7,2 juta (satu ringgit Rp 1.800).
Tapi saat ini Inge sudah lepas dari cengkeraman kombet. Inge melarikan diri dan lolos kembali ke kampung halamannya, ketika para tukang pukul berpesta, menikmati hasil penjualan wanita.
Selain ditempatkan di hotel-hotel di Tawan, juga ada yang dijual lagi ke cukong di Singapura, Sandakan, dan Kinabalu.
Menurut pengakuan Inge, memikirkan melarikan diri dari sarang maksiat, muncul saat Inge sedang haid namun dipaksa melayani tamu. Karena Inge menolak, ia lalu dipukuli dan dicaci maki, perlakuan yang sama juga dialami wanita-wanita lainnya.
Inge belum berani mengungkapkan siapa-siapa oknum yang terlibat dalam penjualan wanita-wanita, dia hanya menjelaskan di antara rekan-rekan wanitanya waktu masih di Tarakan, Tanjung Selor, maupun asal Pulau Jawa, rata-rata terbujuk dengan janji dapat kerja dengan gaji besar. Hal itu dibuktikan si pembawa dengan membelikan pakaian mewah dan pehiasan emas.
Namun setelah berada di sana, pakaian dan perhiasan dipreteli untuk diambil lagi. Hasil kencan dengan tamu juga diambil. Mereka dilarang kirim surat ke keluarga.
Lain lagi cerita ABG di Samarinda, mereka rata-rata anak putus sekolah dengan usia 14 sampai 17 tahun. Setiap hari mereka bisa ditemukan di sepanjang tepian Mahakam, terutama di Jl Slamet Riady atau lebih dikenal dengan sebutan Karang Asam.
Pria yang singgah di sana, ditawari oleh sejumlah wanita untuk minum sambil makan jagung manis. Kepada tamu, mereka hampir selalu mengatakan, “Mampir Mas, sambil minum dan bercinta.” Kata ‘bercinta’ itulah yang menjadi daya tarik.
Pada pukul 19.00 hingga 21.30 di tempat itu biasa nongkrong anak sekolah. Di antaranya Yeyen berusia 17 tahun. Kepada tamu, ia sering kali minta diantar pulang.
Dalam perjalanan, Yeyen berkata, ”Eh… baru jam delapan malam, bagusnya kita ke mana ya?” Penghuni rumah kost di Jalan Rahui Rahayu itu pulang sekitar pukul 22.00.
Di tepian Mahakam, menurut Yeyen ada empat ABG berstatus pelajar. Mereka adalah teman-teman sekolahnya. Semua temannya terjun ke dunia pelacuran, bukan karena kekurangan uang, tapi didorong oleh kebiasaan menelan ekstasi.
Selain mendapat ekstasi, mereka juga bisa mengantongi uang. Bila malam Minggu, penghasilannya berkisar antara Rp 200 ribu hingga Rp 350 ribu. “Saya biasanya hanya sanggup melayani dua orang,” kata Yeyen.
MAKASAR – SULAWESI

Berbeda lagi dengan Ogi, menggeluti dunia pelacuran memang semata-mata karena butuh uang untuk hidup. Anak bungsu dari dua bersaudara ini, orang tuanya hanya daeng becak (tukang becak).
Gadis berparas cantik ini, dalam usia yang sudah 16 tahun, hidupnya lebih mapan. Ia memiliki handphone dan pakaian serta alat kecantikan yang diapakai dari merek-merek terkenal.
Ia adalah salah satu penghuni Losari, yang oleh teman-temannya dianggap sudah ‘sukses’, karena sudah pernah kawin kontrak dengan seorang pria warga negara Jepang.
Ia meninggalkan Pantai Losari, karena mendapat lokasi lain yang lebih menjanjikan, “Ada yang mengajak saya kerja sebagai pelayan di salah satu karaoke,” katanya.
Berangkat dari situ, ia ingin meraih ‘prestasi’. Ia ingin memerankan peran ganda baik sebagai pelayan bir maupun sebagai budak nafsu. “Mulanya saya ragu menawarkan diri,” katanya. Namun alangkah girangnya bukan main ketika seorang warga negara keturunan Tionghoa memberinya uang Rp 200.000 setelah diajak kencan.
Selain di tempat itu, mereka juga bisa ditemui di bioskop Studio 21 atau di pinggir Jalan Dr Sam Ratulangi. Salah satu ABG yang mangkal di Jl Sam Ratulangi, Ogi, 18 tahun. Ia hanya mau diajak kencan oleh orang-orang gedongan dengan imbalan Rp 250.000 hingga Rp 400.000.
“Gengsi dong kencan dengan sembarang orang,” katanya. Dengan demikian, wajar jika bisa memakai handphone serta pakaian bermerek lainnya. “Kalau bukan di hotel saya tidak mau kencan,” katanya. Paling tidak, hotel kelas melati.
Sebenarnya, Ogi bukanlah berasal dari kalangan keluarga miskin. Tetapi mengapa sampai terjerumus ke lembah nista? Menurut dia, akibat kegagalan membina hubungan dengan kekasihnya, telah membuatnya kehilangan harapan. Yang membuatnya lebih sakit, karena yang merebut kekasihnya itu adalah keluarganya sendiri. Akhirnya lari dari rumah untuk hidup di ‘alam bebas’, “Saya sekarang ngontrak rumah,” katanya.
Ia kini telah hidup sebagai istri peliharaan dari seorang pengusaha berkewarganegaran Tionghoa, selain juga berkencan dengan banyak pria.
Cici, 16 tahun juga memasang tarif cukup mahal, Rp 250 ribu sekali kencan. Penampilan sama sekali tidak mengesankan sebagai etek. Bahkan bisa dibilang sangat sopan. Ia juga tidak ingin menjajakan diri secara terbuka. “Saya tidak biasa mangkal di tempat terbuka,” katanya. Selama ini ladang operasinya, lebih banyak menjaring mangsa di night club seperti Ziqzaq di Makassar Golden Hotel (MGH) atau di M Club Kawasan perumahan elite Panakukang Mas.
Etek ‘elite’ ini, dalam beroperasi memiliki kata sandi. Biasanya mereka mengatakan mau ke ATM jika ditanya oleh rekan-rekannya saat ke luar dari rumah, “ATM, kan identik dengan uang,” tutur Cici.
Menurut dia, sudah banyak pria yang mengajaknya kencan di berbagai hotel, kelas melati maupun berbintang. Ia menyebut beberapa hotel seperti yang terletak di Jl Emy Saelan, Jl Cenderawasih, Jl Bhayangkara, Jl Penghibur, dan Jl Dr Samratulangi. Soal tarif, bagi pria yang tidak begitu dikenalnya tidak ada kompromi. “Nginap bisa Rp 400.000. Kalau hanya dua sampai tiga jam saja, Rp 250.000 sampai Rp 300.000,” ujarnya.
Bagi Cici, tidak semua uang diperolehnya berasal dari ‘hasil keringat’ begituan, “Ada juga ngasih uang karena pertemanan,” ujar. Pengalamannya, tidak semau laki-laki hidung belang yang mengajak kencan langsung masuk kamar. “Keliling kota dulu atau menikmati hidangan di warung atau restauran,” ujarnya lagi.
Cara mencari mangsa, tidak terang-terangan. Mereka tetap berusaha menahan diri. Biasanya diawali obrolan basa-basi di dalam night club, “Lelaki yang punya pengalaman, tentu langsung bisa menangkap apa arti obrolan itu,” ujar Cici.
Mereka juga bisa mencari mangsa melalui germo atau cukung. Salah seorang cukong, Sun, 26, tahun mengaku mendapat penghasilan Rp 50.000 tiap malam, “Satu wanita komisinya Rp 10.000,” ujarnya.
Sun yang kawasan operasinya di Makassar Golden Hotel (MGH) tidak sungkan mempromosikan ‘produknya’, “Ada namanya Yana, Evi. Semuanya anak belasan tahun yang penampilannya oke,” katanya.
Menurut Cici, yang paling tidak menyenangkan kencan dengan pria, kalau menuntutnya macam-macam, seperti oral seks atau melalui bagian ‘belakang’. Karena segan lantaran sudah dibayar, biasanya dipenuhi juga, “Sebenarnya jijik. Tapi cara mengatasinya, merem aja,” ujarnya.

PALEMBANG
‘Membaca’ Sinyal di Jl Merdeka
TENGAH hari, sekitar pukul 12.30, saat bubaran sekolah, sejumlah siswi bergerombol di Jl Merdeka. Di antara mereka ada yang memberi sinyal kepada kendaraan pribadi yang melintas.
Apa isyaratnya? Siswi yang masih mengenakan seragam putih abu-abu itu melemparkan senyuman ke arah kendaraan. Begitu disambut dengan klakson dan berhenti agak jauh, dia akan menghampiri dengan sedikit malu-malu.
Salah satu di antaranya, adalah Fitri. ABG berusia 16 tahun, yang tinggal di kawasan Talang Semut, Palembang itu, bercerita hampir setiap hari menjaring mangsa di tempat tersebut.
“Siapa yang tidak tahu Jl Merdeka, sudah terkenal sekali. Dapat dipastikan hampir semua pria yang melintas di jalan itu pada tengah hari, sedang mencari sesuatu yang bisa diajak,” kata siswi kelas II sebuah SMU swasta di Palembang itu.
Menurut pengakuan Fitri, dipilihnya teman kencan yang bermobil hanya untuk lebih memudahkan bernegosiasi karena lebih aman dan terlindung kerahasiaan. “Biar begini, kami ini masih punya rasa malu. Harus bedakan dengan WTS,” kata Fitri sembari mengepulkan asal rokok mentolnya.
Memang, ciri-ciri gadis ABG yang menjual diri di kawasan Merdeka tidak begitu kentara, apalagi ketika di tengah-tengah gerombolan teman-temannya. Tapi, bila suasana agak sepi, maka tampak kelompok-kelompok remaja putri masih bercengkrama di pinggir jalan. Biasanya mereka ngobrol di bawah pohon sambil melihat orang berlalu lintas. Nah, bila ada mobil jalan perlahan-lahan dan berhenti agak jauh dari tempat mereka, selanjutnya para ABG pelan-pelan sembari malu-malu mendekati mobil tersebut.
Tanpa basa-basi, ABG mereka langsung membuka pintu mobil, seolah-olah mobil jemputannya. “Kami langsung kenalan dan nego tentang tarif,” cerita Juli, 15, siswa SMA swasta di Jl Merdeka dengan polos.
Gadis mungil ini mengaku, dirinya biasa dibawa ke sebuah hotel di JL Kol Barlian arah Bandara Sultan Machmud Badarudin II. “Tapi tidak boleh terlalu lama, biar tidak dicurigai orang tua,” katanya. Paling lama dia hanya bersedia dibawa selama dua jam.
Hari Sabtu dan Minggu siang mereka agak leluasa. “Habis belajar, aku dan kawan-kawan pasti pergi ke disko pada hari Sabtu. Makanya, dalam tas sudah disiapkan pakaian ganti seperti celana jins dan kaus oblong,” kata Fitri yang ditemui di diskotek Hotel Princess, Palembang.
Senada dengan Fitri, rekannya bernama Uci, 15, mengungkapkan, keluyuran di diskotek setiap Sabtu merupakan hiburan semata-mata. “Tapi kalau ada yang mengajak kencan, boleh-boleh saja, asalkan sama-sama memberi keuntungan,” ujar Uci.
Ia berterus terang mengenai latar belakang terceburnya dia dan kawannya ke bisnis kenikmatan sesaat ini, karena tergoda ekstasi. Fitri dan Uci bersama tiga kawannya yang ABG di diskotek itu, terus mengoyang-golyangkan kepala dan badannya di tengah ingar bingar musik ‘gedek-gedek’ (house music), yang sambung-menyambung. Itu tanda mereka sedang triping.
Diskotek tersebut memang ‘gudang’ gadis ABG. Pekan lalu, saking membludaknya, tak ada ruang lagi, ratusan ABG yang memenuhi diskotek di lantai V, hotel di kompleks pertokoan Ilir Barat Permai itu, tidak leluasa lagi berimprovisasi dalam menggoyangkan badannya.
Entah kapan mulainya para ABG di Palembang melakukan bisnis esek-esek. Tapi, yang jelas fenomena ini mulai marak sejak krisis moneter melanda. Jumlah ABG yang berpraktek sampingan, semakin hari semakin bertambah. Di pusat-pusat keramaian ABG ini terlihat jelas seperti di Jl Merdeka mulai dari kediaman Wali Kota Palembang hingga ke kantor Pemda Tk II Palembang, diskotek Hotel Princess, Hotel Lembang, Dharma Agung, Dian Cottages, dan di kawasan Jalan Pagaralam.
Fitri maupun Uci, keluarganya yang tergolong orang terpandang di Palembang, tidak sembarangan memilih teman kencan. “Duit bukan tujuan utama, yang penting kita bisa sama-sama happy. Ya, apalagi kalau bukan dengan triping,” tambah Fitri, yang selalu memberi tahu orang tua bahwa setiap Sabtu dirinya ikut les pelajaran bahasa Inggris.
Ada juga ABG yang memang tujuan utamanya mengejar uang, “Saya mau kalau dikasih uang Rp 100 ribu sekali kencan,” ujar Juli terus terang. Cewek bertempat tinggal di Plaju ini bercerita, uang itu diperuntukkan untuk memenuhi kebutuhan dirinya seperti transpor, biaya sekolah, dan kebutuhan adik-adiknya. Menurutnya, sampai saat orang tuanya yang pensiunan PNS ini tak tahu-menahu ‘profesi’ barunya.
Biasanya, kata Juli, dia di-booking om-om yang berduit. Alasannya, kata gadis berparas lumayan ini, selain tidak pelit, om-om senang itu sangat menjamin kerahasiaannya. Termasuk kerahasiaan pribadi om-om tersebut.
“Yang penting, orang tua saya tidak berat lagi menanggung beban sekolah saya dan adik-adiknya yang empat orang,” ujar Juli. Ia bercita-cita menjadi seorang perawat.
Bisnis esek-esek para ABG ini sangat kentara di diskotek Hotel Princess. Hotel yang terletak di kawasan pertokoan Ilir Barat Permai ini sengaja membuka acaranya hari Sabtu siang dari pukul 13.00 WIB sampai pukul 17.00 WIB.
Acara ekstrashow itu juga dilanjutkan dengan Minggu pagi keesokan harinya. Makanya, pada Sabtu siang, hotel bintang tiga ini banyak dikunjungi para ABG. Lobi di lantai bawah terlihat penuh sesak karena daya tampung tidak memadai.
Untuk menjaring ABG yang berasal dari keluarga yang tidak mampu, maka si lelaki iseng cukup menunggu di lobi hotel. Sebab, rombongan ABG ini biasanya menawarkan diri untuk naik ke atas (diskotek) karena tidak mampu membayar cover charge seharga Rp 15 ribu per orang.
“Kita tunggu saja dan pilih mana yang suka,” kata seorang pengusaha pupuk yang mengincar ABG yang hendak triping tersebut. Dan memang banyak ABG yang dengan manjanya mengajak kencan sambil triping.
Para gadis ABG sudah senang bila ditraktir minuman, rokok, dan cover charge. “Kalau mereka mau triping, harus disediakan pil ekstasi,” kata seorang penjaga pintu diskotek terkenal di Palembang itu.
Mereka juga bisa langsung dibawa ke kamar hotel itu. “Makanya, setiap Sabtu dan Minggu, kamar Hotel Princess selalu penuh,” kata seorang pengunjung.
Manajer Hotel Princess, Tommy mengatakan, dirinya hanya penyedia tempat hiburan saja. Soal ada transaksi antara ABG dan pengunjung, dirinya tidak tahu, katanya.

LAMPUNG SUMATERA
“Oo, saya sering diajak pejabat,” kata Susan. Gadis berusia 16 tahun asal Kotabumi Sari, Lampung itu bercerita, sejumlah pejabat dari Jakarta atau pejabat setempat mengajaknya masuk kamar hotel.
Siswa salah satu SLTA di Lampung itu, tidak terlalu susah dicari. Ia bisa dihubungi melalui perantara. Gadis manis berkulit putih itu, mengaku selalu mencatat siapa saja yang berhubungan dengannya.
“Nama dan nomor teleponnya saya catat. Semuanya saya simpan baik-baik. Mungkin suatu waktu saya butuh dia. Mungkin bisa membantu saya mendapatkan pekerjaan, ” katanya. Menurutnya dengan membuka catatan itu, Susan bisa mengingat kembali wajah-wajah para pria hidung belang yang pernah bersamanya.
Seperti juga ABG lainnya di Lampung, Susan memasang tarif Rp 100.000 sampai Rp 200.000. “Itu tarif biasa di sini. Untuk pejabat apalah arti uang sebanyak itu,” katanya. Para pejabat menurut Susan, tidak sayang uang bisa sudah merasa senang.
“Kalau dia senang, mereka bisa memberikan lebih banyak. Saya pernah sekali main diberi Rp 500 ribu. Biasanya setelah berpisah, saya beri dia nomor handphone saya,” ujarnya.
Dengan memberikan nomor itu, Susan kemudian sering dihubungi oleh mereka yang pernah bersamanya, “Jadi saya tidak harus memberikan sebagian penghasilan saya kepada perantara,” katanya.
Susan tahu betul cara ‘memancing’ agar pejabat yang pernah berhubungan dengannya, bisa mengulangnya kembali, “Saya selalu mengatakan jarang berhubungan badan. Juga dengan memujinya bahwa dia pria yang luar biasa,” tuturnya.
Karena sudah terbiasa ‘menjalin cinta’ dengan pejabat, Susan jarang berhubungan dengan orang biasa, “Kalaupun ada, saya pilih mereka yang masih muda. Tapi jarang sekali,” katanya. Mereka yang masih muda, biasanya sangat pelit. Tarif yang sudah diberikan sering kali ditawar rendah. Bahkan kadang-kadang merayu mengajak pacaran.
“Bila sudah dilayani, dia minta gratis,” ujarnya. Para anak muda menurut Susan, juga sering kali menawarkan obat-obatan untuk mabuk.
Di Bandarlampung terdapat beberapa tempat mangkal para gadis ABG seperti pusat perbelanjaan Tanjungkarang Plaza-Artomoro Jl Kartini, Kafetaria King Super Market Tanjungkarang lantai dasar, Kafe King Supermarket Jl Raden Inten, beberapa diskotek seperti Tower, Swisspub, Santana.
Ayu, 18 tahun, seorang gadis ABG di Casablanca bercerita, ia bisa dibawa tanpa bayar, “Itu kalau saya suka, diajak nonton atau makan juga jadi,” katanya.
Tapi kalau yang mengajaknya om-om senang, bandot tua, atau tampang pejabat dia pasang tarif agak tinggi, apalagi sampai nginap beberapa hari. Menurut pengakuan Ayu, asal Palembang ini, dia pernah di-booking pejabat yang menjadi pimpro selama beberapa hari.
“Saya dibayar cukup besar,” ujarnya. Karena itu, setiap bertemu ‘tamu’ Ayu selalu menawarkan diri agar diajak beberapa hari.
“Kalau mereka nginap beberapa hari di Lampung, ya saya juga diajak,” ujarnya. Sistem booking beberapa hari, sangat menguntungkan karena tidak perlu lagi mencari mangsa lain. “Juga tidak terlalu capek. Kan tidak setiap malam harus main. Biasanya cuma cium-ciuman atau berangkulan dan menemaninya tidur,” ujarnya.
ABG ini juga mengaku punya langganan mulai pejabat PNS, aparat keamanan, mahasiswa, hingga wartawan.
“Mereka semua baik-baik. Uangnya juga lancar. Beberapa dari mereka menjadi pacar saya,” katanya. Dengan mempunyai pelanggan seperti itu, Ayu tidak terlalu takut terkena penyakit. “Saya tahu mereka bukan orang sembarangan, pasti jauh dari penyakit,” ujarnya.
Menurut Ayu, jika ada bos-bos atau pejabat yang cinta berat sama anak-anak ABG yang cantik, kadang-kadang dipelihara sebagai istri simpanan atau istri gelap.
Mereka dicarikan kontrakan kamar atau disewakan rumah tinggal. Ada di antara mereka yang melahirkan dan punya anak. Namun, umumnya cewek-cewek ABG yang telanjur hamil di luar nikah, biasanya bayinya diserahkan ke pihak rumah sakit atau dijual pada orang yang mau mengurusnya.
Seperti Linda, 17 tahun, misalnya terpaksa drop out dari sekolahnya sebuah SMU swasta, gara-gara dia pacaran kelewat batas lalu hamil dengan pacarnya, memilih pintas terjun ke dunia pelacuran.
Sekarang dia menjadi istri gelap seorang pejabat dari Jakarta, “Bila dia tidak ada, saya main di diskotek, mencari teman kencan. Saya tidak tahu persis dia tahu atau tidak,” ujar Linda. Sebagai istri gelap yang tidak pernah dinikahi, dia tidak takut seandainya sang suami meninggalkannya.
Mereka rata-rata anak-anak sekolah dari desa yang merantau ke ibu kota Provinsi Lampung. Sampai saat ini, orang tua Linda belum mengetahui pekerjaan anaknya, “Mereka menyangka saya masih bersekolah,” katanya.
Ada juga gadis ABG yang sekolahnya berantakan terpaksa jadi penjaja seks karena kesulitan ekonomi, misalnya orang tuanya terkena PHK. Anak-anak ini juga sengaja disuruh orang tuanya dengan alasan membantu biaya adik-adik yang masih sekolah.
Pelacur ABG di Lampung umumnya tinggal indekos dalam satu rumah yang disewa beberapa orang secara patungan. Umumnya mereka tinggal dekat dengan tempatnya mangkal.
Misalnya kalau sering mangkal di diskotek kawasan Jl Yos Sudarso mereka tinggal di daerah Panjang atau Telukbetung. Kalau mereka mangkal di Tanjungkarang seperti Artomoro dan King Super Market, mereka tinggal sekitar Jl Raden Intan atau Jl RA Kartini atau di kawasan Enggal dan Kelurahan Pelita.
Kalau ABG yang masih sekolah atau kuliah, biasanya mencari mancari mangsa di diskotek cari. Para gadis remaja itu, hampir setiap malam terutama malam minggu memenuhi ruang diskotek di Lampung. Mereka yang nongkrong di diskotek biasanya selalu minta dibelikan ekstasi.
Bahkan ABG-ABG ini juga ada yang menjadi korban obat-obatan terlarang seperti ekstasi, sabu-sabu, atau putaw. Sudah ada beberapa korban yang tewas karena menenggak obat-obatan terlarang melebihi dosis. Misalnya pesta obat terlarang di sebah motel melati Jl Soekarno-Hatta tahun lalu, dua cowok dan satu cewek terkapar dan sekarat, namun jiwanya tertolong setelah berhasil dibawa ke rumah sakit dan dirawat beberapa hari. Kemudian ada seorang anak gadis pelajar tewas di sebuah hotel berbintang setelah menenggak obat terlarang dengan pasangannya.

CIREBON JAWA BARAT
PEONG. Itu sebutan untuk pelacur ABG di Cirebon. Seperti juga di sejumlah kota lainnya, mereka biasanya keluyuran malam di diskotek. Di Kota Udang itu, mereka lebih suka di diskotek di New Land Grand Hotel Cirebon.
Di antara irama musik yang berdentum keras, seorang gadis mengenakan celana biru ketat, dengan T-shirt warna putih yang juga ketat, sendirian, bergerak lincah mengundang perhatian. ”Kalau Mas berminat, nanti akan saya hubungkan,” bisik seorang pramuria yang berdiri sebelah meja menawarkan jasa (bukan hanya sekali) sambil juga menawari tambahan minuman. Mungkin lantaran dijawab beberapa kali nanti saja, akhirnya sang pramuria ‘nekat’ memanggil sang cewek tadi. ”Kristin,” ujarnya singkat sembari mengulurkan tangan.
Kristin, cewek ABG berusia 17 tahun, kulit kuning langsat bermata agak sipit mirip amoy, mengaku asal Cirebon. Aroma alkohol menyeruak lewat mulutnya. Sekali-sekali, ia terbatuk, katanya sedang pilek. “Tidak sering, sih, yang pasti kalau malam Minggu saya ke sini,” tuturnya.
Ia anak ketiga dari empat bersaudara. Merasa frustrasi dengan mantan pacarnya yang setelah ‘menghisap madunya’, pergi entah ke mana. “Aku tak tahu ia kini ada di mana. Buat apa mikiran yang sudah lewat. Bikin pusing.” Sementar anak hasil kumpul kebonya diadopsikan kepada keluarga tak berketurunan yang tinggal di Kuningan. Kadang-kasdang saja Kristin menengok Doni–nama anak berumur 1,5 tahun.
Orang tuanya pensiunan militer yang bekerja di perusahaan ekspor-import yang saat ini sudah bangkrut. ”Usaha apa sih yang tidak terpengaruh,” ujar Kristin sambil membandingkan diskotek itu yang sesudah krisis jumlah pengunjungnya turun hingga 50%.
“Lihat tuh, banyak kursi yang kosong,” tuturnya menunjuk meja sekeliling.
Kristin tak berterus terang asal sekolahnya, ”Kok tanya detail banget, sih,” katanya.
Sebagai peong ABG, ia biasa di-booking dengan tarif antara Rp 250.000 hingga Rp 350.000. Itu kalau short time. Bila menginap, bayarannya Rp 500.000 yang kemudian dipotong buat tip ‘broker’ berkisar Rp 50.000 sampai Rp 75.000.
Kristin, yang kandas di kelas dua SMU, sebenarnya lebih memilih ‘solo karier’ ketimbang terikat seorang germo. ”Repot amat, lagian mereka suka memeras.” Tiba-tiba Kristin menyelinap pamitan, lantaran HP-nya ada yang menghubungi. Ketika ditanyakan apa ada yang booking, ia cuma nyengir.
Tepat pukul 02.30 lampu di ruangan diskotek dengan uang masuk Rp 12.500 itu tiba-tiba menyala terang, berbarengan dengan berhentinya dentuman musik yang berkesinambungan itu. ”Bagaimana Mas, jadi booking nggak nih?” rajuk Kristin berbisik. ”Gampang aja Kris, toh nomor HP-mu sudah tercatat. Kapan-kapan saja.”
Di halaman diskotek, terlihat dari lobi Kristin yang kali ini ditemani rekan seprofesinya tengah negosiasi dengan dua orang lelaki. Sejurus kemudian keempatnya beringsut dengan mobil sedan entah ke mana.
Seperti juga di berbagai kota lain, pelacur ABG di Kota Cirebon belakangan marak. Mereka bisa ditemui selain di New Land Grand, juga di alun-alun yang masih sejalur di Jl Siliwangi.
Mereka juga biasa mangkal di Grage Mall di Jl Dr Sucipto. Di diskotek lain semisal di Mitas Grand Hotel di Jl Tuvarep. ”Dulunya yang rame di Mitas, tetapi sekarang kalah pamor dengan New Land Grand,” tutur seorang pengunjung.
Dua ABG pria yang menjadi germo sejumlah ABG di Cirebon menceritakan bahwa jaringan pelacur ABG di daerah itu cukup rapi.
“Jangan takut, pasti aman berhubungan dengan mereka. Kalau yang di Bandung ceweknya cakep-cakep, di sini juga tidak kalah cakep-nya” tutur Andre New Land Grand Hotel. Ia didampingi germo lainnya, Danu seorang mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Bandung.
Dalam catatan Andre, jumlah pelacur ABG di Cirebon mencapai 50 orang. Mereka berasal dari beberapa SMU setempat. Antara lain SMU yang terletak di Jl Panjaitan, di Jl Pangeran Drajat. Ada juga beberapa mahasiswi. ”Tapi yang paling banyak anak dari SMU di Jl Panjaitan,” tutur Andre.
Menurut Danu, para pelacur ABG tidak semata-mata mencari uang. Ada kalanya sekadar mencari kepuasan dan yang jenis ini kalau di-booking asal diberi pil ekstasi atau pil setan dan sejenisnya sudah bisa diajak ‘masuk kamar’.
Menurut pengamatan mahasiswa bertubuh sedang ini, latar belakang mengapa mereka terjerumus ke lembah nista itu berbagai macam. Tapi yang umum sekaligus klasik lantaran broken home dan kurang perhatian orang tua. Orang tua bercerai, suka cekcok, jarang di rumah. Kira-kira seringnya begitulah.
Untuk menghindari kehamilan, masih menurut Danu, biasanya para peong demikian mereka disebut di Cirebon, menggunakan genaelosit atau cumbrit. Keduanya bisa diperoleh di toko-toko obat.
Menurutnya, yang disebut pertama, bila ingin yang ampuh, mintalah yang kemasannya boks kertas, jangan plastik. Isinya dua butir, harga per butir Rp 15.000. Genaelosit bisa mencegah kehamilan sampai dua bulan. ”Habis dua bulan, ya harus minum lagi,” ujar Danu seperti sedang memberi nasihat.
Menurutnya, para ABG yang mangkal di alun-alun umumnya yang kelas ‘krotak’ atau bawah. Hal itu dibenarkan Andre, ”Aku nggak kenal dengan cewek-cewek yang di sana.” Andre menyebut beberapa nama pelacur ABG papan atas yakni Emi, Devi, Susan, serta Puput yang menjadi primadona di antara mereka.
Tapi Puput adalah yang paling cantik. Ia mengaku sering dibawa keluar kota oleh pelanggannya. “Saya baru saja dari Bandung,” katanya. Di luar kota, bila berpisah dengan pembawanya, ia sering kali menggaet pelanggan lain.
Ada beberapa daerah di Jawa Barat yang diketahui persis liku-likunya oleh Puput, “Tapi Bandung yang paling saya kuasai. Di sana juga banyak teman saya,” katanya.
Ia juga tidak keberatan bila dibawa ke Jakarta, atau ke tempat lainnya seperti ke Jawa Tengah atau Jawa Timur. “Pokoknya bayarannya sesuai, saya akan ikut,” ujarnya

PADANG SUMATRA

“SIAPA bilang di Padang tidak ada pelacur ABG. Gampang kok mendapatkannya di Minang Plaza,” kata seorang ABG ketika diajak kencan seorang pengusaha muda. Ia Menceritakan, setiap kali ingin berkencan dengan gadis ABG, dia selalu mencarinya ke tempat itu. Karena di situlah tempat mereka pasang aksi.
Ketika menceritakan pengalaman kencannya dengan anak muda berkantong tebal yang digaetnya di sebuah wartel kompleks pusat perbelanjaan di kawasan Air Tawar, Fivi, 16 tahun, mengaku ditraktir makan lalu diajak puter-puter memilih celana jins. “Karena dia baik saya nggak nolak waktu diajak bobok bareng di penginapan dekat Pantai Bungus,” katanya sambil cekikikan.
Kalau tahu caranya, tidak terlalu sulit memang. Karena pusat perbelanjaan megah di jantung Kota Padang itu terletak dekat dengan rumah indekos para pelajar SMU maupun mahasiswi sejumlah kampus perguruan tinggi negeri dan swasta.
Sehingga sangat strategis dijadikan tempat berkumpulnya para ABG yang ingin cuci mata sekaligus bursa bagi yang mau cara mangsa. Apalagi di lantai atas gedung tersebut ada Music Room MP yang selalu ramai dikunjungi para ABG maupun para lelaki hidung belang.
Di lantai bawah ada sebuah wartel dan kafe yang selalu dipenuhi ABG. Dengan sedikit kerdipan mata para ABG yang rata-rata berwajah lumayan (maklum mereka mengaku pelajar dan mahasiswa) itu akan tersenyum. Lalu boleh pilih.
Selain Fivi, banyak ABG lain yang mengaku menjalani profesi penjaja seks karena terpaksa untuk menutupi biaya sekolah atau biaya kuliah. Namun tak sedikit pula yang menggeluti dunia esek-esek itu akibat terjerat obat-obatan terlarang.
Shanti, 16 tahun, mengaku terjerat narkotik ketika masih bersekolah di SMU di Pekanbaru. Ketika dipindahkan ke sebuah sekolah swasta di Padang, orang tuanya yang bekerja di perusahan minyak berharap Shanti bisa menjadi anak baik dan menjauhi narkotik serta obat terlarang.
Namun celakanya, di sekolah swasta dekat kawasan Air Tawar itu dia malah berteman dengan anak-anak pecandu sabu-sabu. Di rumah indekosnya seputaran Ulak Karang, mereka sering pesta narkoba.
Bila malam Minggu, waktunya lebih banyak dihabiskan di music room terkenal dekat daerah Pelabuhan Teluk Bayur. Di tempat ini pengunjungnya ramai, dan tak pernah dijamah razia, kata Shanti. Kalau mau triping atau teler tak ada yang peduli.
“Biasanya pria yang saya suka, tidak menolak kalau diajak on. Bila sudah triping badan ini enteng. Sehingga kalau dia yang ngajak tidur sesudah itu, saya tidak menolak, asal dia mau memberi sedikit uang jajan,” tutur Shanti.
Dia mengaku pernah diberi amplop berisi sepuluh lembar Rp 50 ribuan oleh seorang pengusaha mobil.
Kisah Rina, 17 tahun, lain lagi. Gadis baru gede berwajah imut-imut ini mengaku terperangkap perbuatan maksiat karena diajari pacarnya, Dody, mahasiswa sebuah PTS di kawasan Khatib Sulaiman, Padang. Bencana itu berawal ketika dia dipacari Dody yang ternyata pecandu sabu-sabu.
“Mulanya Dody menyuruh saya mencoba sedikit. Semula saya tolak. Tapi karena terus dirayunya. Saya coba juga, ee, lama-lama saya jadi ketagihan. Akhirnya tiada hari kami lalui tanpa barang itu yang kemudian selalu berlanjut dengan hubungan badan,” tutur Rina.
Sewaktu hubungan Rina retak dengan Dody, akibat sang kekasih mendapatkan ‘mainan’ baru, Rina sangat terpukul. Bukan karena ditinggal Dody, tapi karena kesulitan mendapatkan ‘barang’ yang selama ini disediakan sang pacar.
Karena ketagihan sabu-sabu semakin menjadi-jadi, sementara uang tidak punya, tak ada jalan lain saya terpaksa menjual diri. “Keputusan pahit ini terpaksa saya ambil. Karena kalau sedang sakaw obatnya cuma itu. Bila tidak dapat saya bisa gila,” ujar Rina.
Dengan wajah cantik, kulit kuning langsat dan rambut sebahu, tak terlalu sulit bagi Rina mencari mangsa yang berduit. Dalam melakukan negosiasi biasanya Rina hanya mau diajak kencan ke hotel-hotel berbintang. Sebab kencan di hotel melati mengandung risiko bisa ditangkap tim razia Satpol Pamong Praja Padang.
“Dalam seminggu saya bisa mendapat uang antara Rp 300 ribu sampai Rp 600 ribu. Jadi cukuplah untuk kebutuhan membeli shabu atau putaw seharga Rp 200.000 per minggu,” ujarnya.
Karena mengaku kepalang basah, Rina kemudian melengkapi diri dengan handphone. Padahal sebelumnya dia cuma beroperasi menggaet mangsa dengan nampang pada sebuah wartel di Jl Pondok.
Kalau lagi apes, tak jarang dia juga aktif mengontak relasinya lewat wartel. Jika harga cocok Rina tinggal menunggu untuk disamperin di pintu wartel.
Miranda, 17 tahun, lain lagi kisahnya. Pelajar sekolah menengah di bilangan Jl Sudirman itu, tidak terlalu sulit dijumpai sepulang jam sekolah.
Ketika diajak ke sebuah kafe dekat Pantai Padang, gadis manis yang suka dipanggil Mira ini mau berkisah dengan syarat identitas aslinya dirahasiakan.
Dengan lepas Mira mengaku ternyata mencari uang itu tidak susah. Sebagai pelajar merangkap penjaja seks untuk kelas terhormat (maksudnya kelas menangah) dia bisa memenuhi segala kebutuhannya tanpa harus menunggu kiriman dari orang tuanya yang menjadi toke getah di Jambi.
Dengan penampilan biasa-biasa saja, sepintas Mira tak berbeda dengan temannya yang lain. Kalau kencan sehabis jam sekolah, dia selalu minta diantarkan ke sebuah tempat sebelum pukul 18.00 agar tidak dicurigai ibu kosnya.
Bila malam Minggu, dia agak bebas keluar. Kesempatan ini selalu dimanfaatkannya untuk kencan menjelang tengah malam. Dia mengaku tidak menentukan tarif, karena tujuannya untuk bersenang-senang. “Kalau habis tidur dikasih Rp 100 ribu atau Rp 250 ribu saya terima saja. Asal yang mengajak pria berpenampilan perlente,” katanya.
Sumatra Barat yang dikenal sebagai daerah yang memiliki adat dan agama kuat, suasana kehidupan kaum remaja di Kota Padang ternyata tak lepas dari pengaruh kehidupan kota besar, seperti Medan dan Jakarta. Meski kalangan orang tua dan pendidik cenderung menutup-nutupinya, bisa dipastikan puluhan remaja ABG di Padang sudah jadi penganut seks bebas.

PEKANBARU SUMATRA
Mendongkrak Tarif dengan ‘Handphone’
GELAK tawa Sari berderai sembari menempelkan telepon genggamnya di kuping sebelah kanan. Gadis ABG berusia 17 tahun dan memiliki body tinggi langsing itu terus berkomunikasi dengan sekali-sekali matanya menggoda pria yang melewatinya di lantai V Senapelan Plaza, Pekanbaru.
Sari yang tidak tamat SMU itu mengaku ketagihan dengan pil gila ‘inex’. Karena itu tidak jarang dia mau saja diajak ke mana saja jika ada yang mau memberikan sebutir. ”Harganya mahal, saya nggak tahan jika sehari saja nggak nekan (triping-red),” kata remaja berlesung pipit itu sambil terus memencet sejumlah angka di handphone-nya.
Menurut Sari, dirinya terjerembab di dunia sesat itu baru satu tahun. Akibat pergaulan bebas, sekolahnya pun menjadi korban. Semula dia termasuk anak yang pendiam, baik itu di rumah maupun di sekolah. Tapi setelah mulai mengenal cinta dengan seorang mahasiswa, dia sering diajak ke diskotek. Mulailah dirinya mengenal apa itu house music serta pil setan.
Malang baginya, karena ketagihan pil inex, tubuhnya mau saja diobok-obok oleh sang pacar. ”Saat itu semuanya telah saya serahkan kepada dia. Tapi setelah dia puas malah dia menggandeng cewek lain di depan mata saya sendiri,” sungut ABG yang mengaku pernah berjilbab saat masih sekolah.
Entah pelarian atau ketagihan namanya, Sari bertambah larut dengan berbagai jenis obat yang diakuinya bisa menghilangkan semua masalahnya. Sementara untuk terus melanjutkan sekolah dirinya merasa tidak mood lagi. ”Tapi di sini yang mangkal di plaza banyak juga anak sekolah, malah ada yang masih SMP,” ujar Sari.
Dengan wajah tertunduk Sari mengakui jika ditanya soal tarif bisa mencapai Rp 250 ribu hingga 300 ribu. ”Lumayanlah bisa untuk bayar rekening handphone dan beli inex,” ujar cewek hitam manis yang mengaku tinggal di kawasan Pintu Angin, Jalan Sultan Syarif Qasyim.
Malah gadis yang pernah bercita-cita menjadi peragawati ini mengakui dengan menggenggam handphone bisa menaikkan tarif karena terasa lebih percaya diri dan terkesan kelas tinggi dalam menggaet pria berduit.
Diakuinya, tarif itu tidak mutlak. Ada juga pria yang disukainya, tanpa tarif dia langsung ke hotel. ”Saya punya pacar lagi Mas, dia sering membagi pil. Untuk satu pil saja saya mau diajak ke mana saja,” katanya. Hebatnya, pacar Sari tidak pernah cemburu, di saat Sari di-booking salah seorang pria. Bahkan Andi, pacar Sari, siap mencarikan mangsa untuk Sari.
”Saya kurang suka dengan anak sekolah, karena banyak yang kere. Saya suka laki-laki yang agak mapan. Itu bisa terlihat dari penampilannya. Apalagi di kota ini banyak pengusaha yang berhasil,” ujar Sari yang baru setahun mengenali dunia semipelacuran ini.
Tarif ABG yang lebih dikenal dengan istilah ‘lontong’ di Pekanbaru memang tergolong mahal. Untuk mendapatkan ‘daun muda’ itu bisa merogoh kocek minimal Rp 500 ribu. Tapi jika sudah berlangganan, terkadang bisa saja dengan sebutir inex dapat pelayanan gratis di penginapan.
Bisnis esek-esek para ABG ini sangat kentara di pusat pertokoan, seperti Matahari Plaza dan Senapelan Plaza. Apalagi Diskotek Orion, Senapelan Plaza di Jalan Teuku Umar buka siang pada Sabtu, dan Minggu.
Fenomena keberadaan ABG di pusat pertokoan sudah menjadi rahasia umum. Seperti di pusat pertokoan Matahari Plaza, Jl Pepaya, dengan berpakaian sedikit mencolok dan bergerombol mereka ‘mejeng’ seperti sedang menunggu seseorang.
Pada umumnya alasan mereka lebih menyukai plaza sebagai tempat mangkal antara lain dengan gampang ngajak shopping bila ada bos-bos yang ingin mem-booking.
Pada Sabtu dan Minggu mereka bergerombol mejeng di setiap lantai di Matahari Plaza. Dari cara berpakaian jelas kentara, antara lain T-shirt serta celana jins ketat hingga menampakkan perut dan sepatu berhak tinggi sambil menggenggam handphone.
Hari Sabtu, pemandangan di lantai V di Senapelan lebih hidup, karena ABG berkeliaran menunggu tawaran untuk naik ke atas (diskotek).
”Pada umumnya para ABG yang berkeliaran menunggu tawaran masuk ke diskotek adalah ABG kurang mampu. Mereka mau saja diraba-raba, asal ada yang mengajak naik ke atas,” ujar Yudhi, salah seorang makelar ABG di lokasi tersebut. Tapi ABG yang nongkrong di plaza-plaza biasanya sudah memiliki langganan tetap.
ABG itu, lanjut Yudhi, sesampai di dalam diskotek akan melepaskan diri dari pembawanya. “Biasanya, para ABG seperti itu, lebih suka nongkrong di diskotek daripada diajak keluar. Jika ingin mengajak keluar, tunggu hingga dia ‘on’,” bisik pria yang mengaku hidup dari kelincahan menawarkan ABG.
Yudhi juga mengatakan bahwa tidak semua ABG yang mangkal mengintai mangsa dengan lagak sedikit mencuri perhatian. Ada juga sambil bermain video game.
Mereka dengan tertawa lepas bermain seperti anak-anak lainnya. ”Tapi itu sudah pasti ABG yang memiliki langganan, jadi nggak perlu lagi mencari,” kata Yudhi.
Irna, salah seorang ABG yang masih duduk di bangku kelas II salah satu SMU swasta di Pekanbaru. Dia paling suka berjingkrak-jingkrak di tengah ingar-bingar musik diskotek. Karena itu setiap Sabtu, sepulang sekolah, Irna dan teman-temannya yang membawa pakaian ganti di tasnya langsung menuju Orion House Music di Senapelan Plaza.
Mereka tak mau disamakan dengan para ‘lontong’ yang siap melayani di penginapan ataupun hotel. Tetapi jika mereka mendapatkan pasangan yang membuat ‘syur’ di lantai diskotek, mereka rela diraba-raba, tapi dengan imbalan cukup setengah butir inex.
”Jangan samakan kami dengan lontong-lontong itu, kami tetap menjaga yang satu itu. Kalau hamil, bisa berabe hidup saya,” cetus Irna, sambil menggoyang-goyang kepalanya.
Berbeda dengan Irna, rekannya Yuyun, 17, malah dengan menantang dirinya pernah di-booking laki-laki. Dengan alasan belajar bersama di rumah teman, Yuyun ternyata belajar di arena diskotek sambil ‘triping’. ”Tapi yang mem-booking harus melalui seleksi, saya nggak mau yang gaek (tua). Pokoknya senang sama senang, saya nggak mikiran soal tarif, yang penting ada inex, gampanglah itu,” ujar Yuyun.
Yuyun berterus terang bahwa dirinya kecandungan obat terlarang melalui salah seorang temannya. Sedangkan keperawanannya memang sudah amblas saat duduk di bangku kelas III SMP. Karena itu dia tidak lagi berpikir panjang untuk terjun ke bisnis esek-esek. ”Tapi saya bukan mencari uang, yang penting happy,” tutur ABG yang mengaku asli Riau.
BANDUNG JAWA BARAT
‘Kang, Bagaimana kalau Kita ke Atas’
MASIH mengenakan pakaian seragam sekolah putih abu-abu, Lusi berdiri di dekat lampu pengatur lalu lintas di Jl Asia Afrika, Bandung. Ia akan segera mendekat bila ada di antara antrean mobil yang membunyikan klakson atau memberi isyarat dengan lampu.
Seperti sudah biasa, ia menarik pembuka pintu dan duduk di samping pengemudi, “Mau diajak ke mana, Kang,” katanya. Itu adalah kalimat pembuka setiap dia masuk ke dalam mobil. Tanpa menunggu jawaban, ia akan menyambung, “Ke plaza dulu ya.”
Di salah satu pusat pertokoan yang berada di alun-alun, Lusi langsung menyelinap ke counter pakaian wanita. Ia mengambil sebuah T-shirt. Setelah itu, dia mengatakan, “Bagaimana kalau kita ke atas.” Maksudnya ia mengajak ke daerah Lembang.
Lusi menceritakan, ia sudah biasa berkencan di Lembang, “Di sana banyak hotel. Lagi pula lebih aman, nggak ada yang lihat,” katanya. Ia menyebut sejumlah hotel di Lembang. Antara lain Gumilang Sari, Panorama, Putri Gunung, Telaga Sari, Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante.
Lusi seperti sudah terbiasa ke sejumlah hotel itu. Dia bercerita, kalau tamu dari luar kota, biasanya membawanya ke sebuah hotel yang lokasinya agak tersembunyi di kaki gunung, “Tapi pukul 10 malam, saya sudah minta diantar pulang,” katanya.
Di hotel mana pun dia berkencan, tidak pernah menginap karena takut dicurigai orang tuanya. Bila terlambat pulang, ia selalu beralasan pergi main ke rumah temannya. Dan orang tuanya percaya.
Lusi, siswa sebuah SLTA cukup ternama di Kota Bandung itu, mengaku tidak setiap hari mencari ‘mangsa’. “Kalau lagi iseng saja,” katanya. Dia memasang tarif Rp 200 ribu untuk sekali kencan.
Lain lagi cerita Yanti. Mahasiswa semester pertama sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Ia biasa berkeliaran di Cihampelas, “Sambil jalan-jalan lihat pakaian, biasanya ada yang ngajak,” kata gadis hitam manis itu.
Ia sebetulnya ada dalam ‘jaringan’ wanita terorganisasi di Bandung. Bila ada yang membutuhkan, dia biasa dihubungi oleh teman prianya yang mempunyai hubungan dengan karyawan sebuah hotel, “Saya biasa menemani tamu hotel yang rapat,” katanya.
Gadis asal Tasikmalaya itu, biasanya di-booking ke hotel terkenal di Lembang, “Melayani para bos,” katanya. Yanti memasang tarif juga Rp 200 ribu. Tapi bila melayani orang rapat, sering kali mendapat tips yang cukup besar.
Yanti terjun ke dunia prostitusi ketika masih kelas dua SLTA di Bandung. Ia tergoda oleh ajakan teman-temannya, “Mereka sering memperlihatkan uang bergupel-gumpel. Pakaiannya juga bagus-bagus,” katanya.
Pertama kali Yanti ikut ‘mejeng’ bersama temannya di sekitar alun-alun. Ketika itu dia memperhatikan betul gaya temannya memancing perhatian pria. Dia pun mencoba-coba dan tergaet seorang pria dari Jakarta yang usianya sekitar 35 tahun.
“Itu pertama kali saya dibawa ke hotel. Rasanya takut juga sih. Tapi karena pria itu ganteng, saya jadi suka,” katanya. Saat itu ia memang sudah tidak perawan lagi, karena sudah berkali-kali berhubungan dengan pacarnya.
Dengan pria yang pertama kali membawanya ke hotel itu, ia sempat menjalin asmara selama beberapa bulan. Setiap pria tersebut datang ke Bandung, selalu mengontak Yanti untuk menemaninya. Tapi lama-lama ia jarang muncul bahkan tidak pernah muncul sama sekali, “Sudah tidak pernah lagi jumpa dia,” ujarnya.
Yanti tidak sendiri mencari ‘mangsa’ di Cihampelas. Di pasar jins terkenal di Bandung itu, menurut Yanti terdapat sejumlah ABG yang pura-pura belanja. Ciri-cirinya tidak terlalu sulit dikenali, biasanya mereka keluar masuk toko tanpa membeli apa pun, dan suka berlama-lama melihat pakaian bila ada pria yang diincar.
Para ABG di Cihampelas itu, oleh tamu biasanya dibawa ke hotel yang membuka short time, seperti Pondok Kahuripan, Lebak Gunung, dan Juvante. Juga sejumlah penginapan yang berada sepanjang Jl Pasir Kaliki sampai Lembang.
Di Bandung ada juga gadis ABG yang berkeliaran di diskotek. Mereka bisa dijumpai pasang aksi di Jl Braga. Kepada pria yang mendekatinya, langsung diajak ke diskotek.
“Sebutir dua butir juga jadi,” kata Rina. Maksudnya ia bersedia diajak melakukan apa pun bila diberikan ekstasi.
Bila diberikan pil yang satu itu, pelajar kelas tiga SLTA itu, tidak pernah memilih-milih pria yang mengajaknya berkencan, “Tempat chek in banyak di sini,” katanya.
Di tempat-tempat terbuka alias umum, tanpa rasa canggung dan malu, biasa dijumpai wanita yang ‘menjajakan’ diri.
“Hai, mau ke mana? Mau ngamar nggak?” begitu pertanyaan yang meluncur dari mulut-mulut bergincu merah bak tanpa perasaan berdosa. Pelacur yang bergaya vulgar macam begitu bisa ditemui di Alun-alun Bandung dan sekitarnya, meliputi Jalan Asia Afrika, Dewi Sartika, Dalem Kaum, Sudirman, Otto Iskandinata, Banceuy, dan ABC.
Tak sedikit di antara mereka yang tergolong ABG alias anak baru gede. Hanya saja kawasan pusat kota ini lebih banyak ‘dikuasai’ perempuan dewasa yang juga mengaku ABG. “Cari ABG? ABG yang mana? Atas Bawah Gondrong?” kata wanita yang mengaku bernama Ani diiringi cekikikan.
Di Bandung, trennya memang para ABG ‘asli’ lebih banyak mejeng di pusat-pusat perbelanjaan seperti Bandung Indah Plaza (BIP) di Jalan Merdeka, dekat Balai Kota. Atau di Jalan Juanda atau Dago, terutama di sekitar pasar swalayan Superindo dan Plaza Dago.
Sedangkan yang tergolong masih dekat dengan Alun-alun Bandung, para ABG banyak bergerombol di King Shopping Center Jalan Kepatihan dan Diskotek LA di Jalan Asia Afrika.
Sudah menjadi rahasia umum kalau para ABG itu ‘bisa dipakai’ siapa saja. Berbeda dengan para senior mereka, para ABG ini kebanyakan tidak menawarkan diri dan menolak cara-cara vulgar. Bahkan umumnya langsung menolak kalau diajak secara langsung untuk transaksi seks.
“Sorry, kita bukan perempuan begituan,” begitulah jawabannya kalau ada pria yang, menurut ukuran mereka, nggak tahu ‘sopan santun’.
‘Jalan-jalan, ‘Beliin’ Baju, Oke’
MEREKA sangat membenci pria yang tidak mengenal sopan santun. Seperti yang dituturkan Yuni, yang mengaku masih sekolah di SLTP, “Sebel deh sama cowok kayak gitu. Padahal kalau dia bisa baik-baikin kita, kalau udah waktunya, ntar juga dikasih.”
Memang para ABG Bandung umumnya tidak mau disebut pelacur. “Kan kita nggak dibayar dan kalaupun saya mau ngelakuin begituan, kan bukan karena bayarannya tetapi memang karena saya suka,” jelas Yuni yang mengungkapkan dirinya dan umumnya teman-teman nongkrongnya, berasal dari keluarga yang kurang harmonis.
“Kalau dia ngajak kita jalan-jalan, lalu jajan, lalu beliin baju, atau ngasih hadiah apa gitu, ya oke. Itu kan karena dia mampu,” tegas Yuni. “Nggak pake begituan juga, kalau saya suka, dia nunjukin perhatian, orangnya enakan, saya kasih juga.”
Para ABG yang biasa hidup dalam pergaulan bebas tanpa batas ini umumnya merasa kesepian karena kurang perhatian keluarga. Umumnya juga bukan dari keluarga dengan latar belakang ekonomi pas-pasan. “Mami sama Papi pada sibuk semua,” kata remaja sebuah SMU yang mengaku bernama Lia. “Kita sih nggak mau banyak mikir. Pokoknya kalau masih bisa hidup senang-senang begini, ya kita lakuin,” katanya soal ‘pelariannya’ ini.
Meskipun umumnya tidak mau disebut pelacur karena mengaku tidak pernah pasang tarif, tetapi pada prakteknya banyak lelaki hidung belang yang kena batunya. Paling tidak itulah pengakuan Iis, mengaku siswi SMU BPI, ketika menceritakan pernah ngerjain om-om yang mendekati dirinya.
“Sesudah dapat traktiran makan dan minum, Iis mengajak dia masuk ke Yogya (Departement store BIP). Dia mau saja dan membayar setelan baju yang lumayan mahal. Kira-kira bajunya ama bawahan (rok) aja, Rp 300 ribu,” jelas Iis. Dan Iis tentu saja pada malam Minggu itu harus mau melayani hasrat om itu di hotel sampai pagi. “Mama Papa nggak tahu kalau Iis udah biasa hubungan suami istri. Dan kalau kita pulang pagi, Mama Papa pikir kita cuma ke disko aja,” kata Iis.
Bayaran Rp 300 ribu itu buat Iis memang bukan harga mati. Karena menurut dia pernah juga ada yang ‘kebagian jatah’ meskipun cuma mentraktir makan dan minum saja. “Pernah habis tripping, terus pas mau pulang pukul dua pagi, pas nunggu taksi disamperin cowok. Katanya, mau bareng nggak? Ya mau aja,” kisah Iis.
“Lantas dia mengajak makan. Habis itu dia bilang cari hotel yuk. Berhubung saya juga lagi kepengen, ya udah jadi saja,” kata Iis yang mengaku tidak pernah minta bayaran. “Cowok itu nggak bayar saya, cuma nganterin pulang pakai taksi,” lanjutnya.
Buat Iis dan beberapa temannya, ‘aturan main’ yang seperti itu menunjukkan komitmen mereka untuk benar-benar tidak mau disebut pelacur. Meskipun sudah berusaha menunjukkan perbedaan dan posisi sekuat itu tetap saja masyarakat dan termasuk juga para ‘pemakai jasa’ mereka menganggap para ABG itu sebagai perempuan sewaan alias pelacur. Bahkan boleh dibilang pelacur gres dengan tarif murah.
Di kalangan lelaki hidung belang umumnya tersebar cerita bahwa dengan cuma punya uang Rp 30 ribu rupiah di kantong, para pria iseng bisa menikmati layanan seks kelas satu yang ‘dingin-dingin empuk’. Dan mengenai murahnya tarif pelacur ABG itu diakui juga oleh Dian yang ditemui saat mejeng di Jalan Juanda.
“Gampang, kok Mas, asal bisa ngajak ngobrol mereka, ya sambil nraktir dong, kalau Mas mau mereka juga mau kok,” kata Dian menunjuk ke arah teman-teman seusianya yang tengah bercengkerama di depan Swalayan Superindo. “Yang penting, sama-sama suka,” tegasnya.
Berdasarkan cerita Dian, para lelaki hidung belang paling-paling harus menambah biaya sewa kamar hotel kelas melati. Hotel-hotel di kawasan Jalan Setiabudi dan Jalan Raya Lembang umumnya diketahui memberikan layanan atau tarif khusus kepada pasangan bukan suami istri ini. Misalnya, Hotel Giri Elok dan Gumilang Sari.
“Kalau di Jalan Dago, kita bisa pakai Hotel Buah Dua,” jelas Dian yang tahun ini baru lulus SMU. Menurut Dian, tarif short time hotel-hotel itu umumnya sekitar Rp 35.000.
Dian juga mengatakan umumnya para ABG ini senang dengan pria yang bergaya dan mudah bergaul. “Makanya kalau mau ketaksir sama mereka, pakaian, gaya rambut, parfum, ya harus trendi, kayak mereka gitu,” jelas Dian yang mengaku mulai kenal gaya hidup seks bebas itu sejak masuk di kelas I SMU, dua tahun silam.
Cerita Dian soal ‘tradisi’ ABG ‘bebas’ ini tak sepenuhnya benar. Paling tidak ada kontroversi dengan pengakuan Nola, murid sebuah SMU di Dago. “Saya cuma mau kencan sama pria yang keren dan berselera tinggi,” katanya.
Serupa dengan Dian, Nola memang tak mempermasalahkan tarif kencan, bahkan bisa gratis. “Yang penting mau nraktir di restoran yang kelasnya oke, terus mau beliin baju dan yang pasti punya mobil yang asyik buat jalan-jalan,” kata Nola yang ceplas-ceplos ini.
Lantas Nola mengakui bahwa untuk menyenangkan dirinya itu tidak jarang seorang lelaki harus mengeluarkan dari koceknya Rp 300 ribu – Rp 500 ribu. “Heran juga, kok mereka nggak keberatan, padahal kalau mau murah juga banyak,” kata Nola yang semampai dengan kulit putih mulus ini.
Para ABG yang dapat ‘dipakai’ ini umumnya mudah dikenali dengan dandanan mereka yang ngetrend dengan baju pendek sehingga kelihatan pinggang dan pusarnya, atau menggunakan rok mini yang modis. Meskipun sama-sama seksi, biasanya sangat berbeda dengan pelacur senior dari cara merias wajah.
Para ABG biasanya tidak tampil terlalu menor atau make up kelewatan tebal. Mereka masih dengan gaya muda ceria. Selain itu para ABG lebih pintar memantas-mantas diri sesuai dengan mode yang lagi in.
Perbedaan lainnya, mereka pun tidak pernah menawar-nawarkan diri, entah karena memiliki kepercayaan diri yang tinggi alias pe-de, karena umumnya memang cantik alamiah, atau karena memang itu ‘kiat’ pemasarannya. Yang pasti, para ABG ini biasa bergerombol dan asyik dengan dunia mereka sendiri, sampai ada yang mengajak berkenalan dan berkencan. Saat itulah mereka menjadi sama dengan umumnya wanita bayaran.
Meskipun tarif mereka sering lebih murah, para ABG ‘pemuas nafsu’ ini lebih nyaman berpraktek ketimbang para senior yang lebih ‘profesional’. Para ABG hampir tidak pernah dirazia polisi. Mungkin karena mereka tampak seperti anak-anak kemarin sore yang terkesan masih ceria bermain di pusat keramaian Kota Kembang.
MEDAN – SUMUT
Di Medan, ‘Onces’ Mengincar ‘Tubang’
BRONCES atau onces itu panggilan khusus untuk pelacur ABG di Medan. Di kalangan onces pun memberikan istilah tersendiri pula untuk mangsanya. Tubang (tua bangka) tapi tebal kocek.
Tubang yang istilah umumnya adalah “om senang” incaran para onces, di plaza atau lantai disko. Biasanya tempat yang disenangi remaja Medan adalah Ari King-King di Hotel Dano Toba, atau House Musik di Jl Perdana Medan, dan masih ada beberapa tempat lainnya.
Dentuman musik yang menggema di Ari King-King Discotiq, membawa suasana malam yang semakin dingin itu menjadi hangat. Tiga ABG di salah satu sudut lantai disko asyik terus bergoyang, matanya terus melahap semua pengunjung yang datang. Mereka bergaya meliuk-lukkan tubuhnya agar menjadi perhatian tamu yang baru datang.
Masuk Ari King-King memang harus waspada bagi yang belum biasa, sebab bisa-bisa terjebak dalam kelompok khusus pengguna ekstasi atau shabu. Yang pasti penggemar dua jenis narkoba itu setiap masuk tempat hiburan pasti membawa serta barang tersebut.
Pengunjung yang ingin onces biasanya menghidupkan korek api, pelayan pun datang. Pesan minuman, sekaligus onces. Para onces yang sejak tadi terus mengamati arah hidupnya api geretan, memberi kode pada sang pelayan. Lewat gerak bahasa kepala, meski dalam situasi remang-remang itu si onces mengerti yang mana yang dikehendaki. Malam itu, tiga onces sepertinya sudah terlalu lama bergoyang namun belum ada tawaran. Mata mereka semakin liar. Sebab malam sudah semakin larut.
Begitu menerima kode dari sang pelayan, mereka serentak memandang. Ternyata yang tinggi semampai berjins ketat warna cokelat tua, dengan blus ngepas putih, rambutnya tergerai sebatas pinggang, ada giwang kecil di telinganya, yang dapat tawaran.
Ita, 17, nama onces yang cakep itu. Diajak ngobrol dia langsung akrab, dan bercerita apa adanya. Ita tak segan mengemukakan asal mulanya dia terjun ke dunia yang digelutinya.
Tujuan pertama karena Ita ingin senang dan ingin menikmati semuanya. Kalau tidak, cuma bisa lihat di televisi. ”Ita kan kepingin mewah, beli pakaian mahal. Ngarepin dari bokap, wah nggak bakalan, ah…. Tapi sampai sekarang juga mereka nggak tahu kok,” katanya.
Ita yang mengaku masih duduk di kelas III salah satu SMU Swasta di Medan mengaku, pertama kali di-booking seorang tubang. Selama tiga hari, Ita dibayar Rp 1 juta. Seperti disambar geledek rasanya Ita menerima uang sebanyak itu. Sementara selama ini untuk sekolah saja pun terus sulit biaya.
Ayahnya juga pegawai di sebuah bar kecil kawasan Nibung Raya, Medan, seperti kurang perhatian pada keluarga. Ita saat itu kelas II SMU, tiga lagi adiknya menunggu. Ibunya sering sakit-sakitan. Dia pernah bertanya kepada temannya yang hidupnya kelihatan mewah. Ternyata melakukan cara itu.
”Kegadisanku dibayar Rp 1 juta. Tapi aku rela. Semuanya demi hidup. Diam-diam aku bayar semua keperluan sekolah adik-adikku. Untuk menutupi pekerjaan di mata orang tua, aku mencoba mengambil pakaian jadi, dan menjualnya secara cicil, kepada tetangga dan teman-teman. Aku libatkan dua adikku untuk mengutip cicilannya. Tak ada orang yang mencurigaiku. Sambil menjajakan pakain, aku juga bersedia jika diajak ‘ngamar’. Sering itu terjadi,” katanya.
Ada om membeli satu kemeja, dan sepasang kaus kaki seharga Rp 500.000,- berikut dirinya. Atau terkadang Rp 200.000,- pun jadi. Bahkan di bawah tarif itu juga pernah. Yang penting saku dapat uang dan senang. Jalan ke mana saja, makan enak, tidur di temat yang luks dia jalani. “Kalau tidak pulang alasanku, keluar kota.”
Tapi belakangan ini Ita mulai bosan dengan cara itu. Ia ingin naik kelas, dan mulai masuk diksotek satu berganti ke diskotek lainnya di kawasan Kota Medan. Dagangannya pun mulai dipegang adiknya.
Kalau di diskotek sebenarnya uang tidak terlalu banyak, kalau sabar memang ada. “Tapi aku senang bisa dapat ekstasi gratis, yang penting kita mau gabung, untuk on. Kalau sudah on kita bisa lupa yang lain, jadi duitnya apes. Aku sih… selalu ingat, bahwa aku berbuat semua ini untuk uang. Jadi untuk on, aku ikut kalau kepingin,” katanya.
Ita malam itu kebetulan masih menunggu temannya yang biasa memberinya ekstasi. Sambil mengisap rokok putihnya dalam-dalam, lalu mengepulkan asapnya ke udara. Dia bercerita tentang awal perjalanannya sampai ke dunia bonces, yang tidak diketahui sampai kapan bisa ditinggalkannya. Ketika itu Ita masih di kelas II dan sangat perlu uang. Tidak tahu ke mana lagi mau diminta. Seorang teman menyuruh Ita menemui Tante May di kawasan Jl Mandala By Pass, Medan.
Ita datang dan langsung minta kerja, May paham akan perminaan Ita. May minta Ita berjanji tidak bakal ada tuntutan di belakang hari. May membawa Ita ke Deli Plaza, kenalan dengan seorang tubang. Awalnya Ita ngeri melihat orangnya, ternyata dia baik hati.
Ita selalu memberi advis baik kepada calon pembeli, seperti lebih dulu menghidupkan korek api bila calonnya ingin merokok. Merapatkan duduk dengan menempelkan payudara di lengan si pria. Sesekali Ita mencium leher tepat di bawah telinga teman duduknya, atau meletakkan lengannya di paha. Tapi ada juga pria yang cukup dengan kerdipan mata, dan tatapan manja. Ita juga mengaku, tak semua pira gampang digoda. Satu kali Ita pernah kena batunya, letih menggoda, pria itu tetap tegar.
“Orangnya ganteng, perlente, dan tebal kocek. Tak satu pun onces yang berusaha merayunya berhasil, semua gagal. Akhirnya kalau pria itu ke Ari King-King kita hanya memandang dari jauh. Tapi pria itu juga mau memberikan kita uang, karena sudah menemaninya. Lumayan juga, untuk ongkos taksi,” katanya
Ita mengaku, tujuannya memang uang dan kemewahan, tapi tetap ingin sekolah. Minimal tamat SMU, buat bekal, suatu ketika sudah tak berada di dunia onces lagi.
Ita sudah pernah aborsi. Tapi hamilnya baru satu bulan, biayanya waktu itu Rp 1,5 juta. Istirahat dua minggu, lalu bekerja lagi. Tapi Ita tetap sekolah, hanya tiga hari permisi, alasan sakit. Kepada orang tuanya, Ita beralasan mens datangnya tersendat, jadi terlalu sakit. Ibunya malah membuatkan jamu agar haidnya lancar.
“Itu adalah pengalaman yang tidak bisa saya lupakan. Untuk menjaga agar tidak hamil saya lakukan dengan suntikan. Sampai sekarang masih aman,” katanya.
Perasaan Takut Memang Selalu Ada
CICI, 15 tahun, seorang pelajar SLTP swasta kelas III yang kost di kawasan Jl Gatot Subroto, Medan, awalnya terjun ke dunia pelacuran karena kehabisan uang, sementara kiriman dari orang tuanya di Tanah Karo sudah habis untuk berfoya-foya.
Untuk menghilangkan suntuk, suatu hari Cici nongkrong di Olympia Plaza, Medan. Tak sadar ada seseorang berdiri di sisi Cici ketika ia sedang asyik melihat-lihat satu blus bagus dan mahal. ”Cantik ya… mau?” kata orang itu, Cici senyum. Pria itu menyuruh Cici mengambilnya, sambil membujuk. Cici pun mengambil pakaian itu. Lalu berkenalan dan mereka makan.
Setelah itu Cici di bawa ke kota dingin, Brastagi. Satu malam Cici bersama pria perlente dan ganteng itu. Setelah malam pertama Cici menangis karena takut hamil dan rasa sakit ketika pipis. Dia membujuk sambil memberi Cici uang, untuk membeli obat antihamil dan krem olesan supaya tidak perih. Jumlahnya, lumayan Rp 300.000. Kesulitan Cici pun teratasi.
Perasaan takut memang selalu ada, tapi karena ‘lukanya’ sudah sembuh, Cici jadi ketagihan. Terus sering mangkal di plaza itu, berganti-ganti pasangan siapa saja yang mengajak. Sejak itu Cici tidak peduli lagi, kapan pun kiriman orang tuanya datang.
Kalau tidak di plaza, Cici mangkal di Copa Cobana. Di tempat itu Cici tidak perlu jauh-jauh kalau ada yang minta, sebab sudah tersedia kamar berikut segala makanan yang ingin dipesan. Dengan musiknya juga enak di tempat itu.
Di Copa, memang onces-nya hampir seluruhnya sebaya Cici. Di tempat ini tak semua bisa diajak ngamar. Ada yang hanya untuk peci-peci saja. Artinya sebatas peluk cium. Umumnya tamu yang datang ke Copa Tubang yang sudah pantas dipanggil eyang oleh onces. Banyak yang berbadan gemuk, minta diladeni semuanya. Kata Tia, teman Cici yang spesialis peci.
Tia memang perlu penampilan dan gaya, meskipun orang tuanya tergolong menengah. Tapi karena Tia ingin yang lebih, lalu mencari jalan sendiri. Tia mengaku sudah tiga bulan di Copa, dan bisa mejeng, dan bisa beli apa saja. Kalau omnya baik, uang tipnya lumayan, Rp 50.000 sampai Rp 100.000. Kalau ada yang mengajak, Tia selalu berterus terang, masih ingin sekolah, dan selalu mengingatkan si om akan anaknya yang sebaya dengannya. Karena Tia ingin cari biaya seolah. Biasanya om itu kasihan melihat Tia.
Tia penampilannya selalu dengan rok mini, dengan pakaian dalam di lapisan celana short ketat yang sulit dibuka. Dan tidak bisa di-obok-obok. Tapi untuk pinggang ke atas, memang Tia mempersilakannya. Tia merasa senang, pulang sekolah ke Copa, banyak teman. Orang tua mengiranya tetap les bahasa Inggris. “Memang saya tetap hapal, bila ditanya ayah, tetap bisa menjawab,” katanya.
Jadwal les yang lima kali seminggu, paling satu atau dua kali diikuti. Kadang dalam seminggu sama sekali tidak masuk, tergantung selera. Tapi ke Copa, Tia jarang berseragam sekolah karena pernah dilarang, dulu temannya pernah kena razia dengan seragam itu.
Cici dan Tia memang berteman setelah kenal di Copa. Cici kost bersama 12 orang di satu rumah. Ibu kostnya tidak pernah curiga karena sebelumnya Cici memang sering ke luar rumah untuk les, atau kerja kelompok. Karena teman kelompoknya juga sering ke tempat Cici dan ada yang bermalam. Tapi teman-temannya ada yang mulai usil melihat penampilan Cici yang terus-menerus ganti baju mahal. Untuk menyumbat mulut rekannya, Cici tak segan meminjamkan baju, sepatu, tas atau sandal, bagi teman kostnya yang ingin gaya. Ada juga yang tahu kalau Cici anak orang kaya di kampungnya.
Pengalaman Yuni, 16 kelas II SMU swasta dan kelompoknya yang berlima lain lagi. Mereka mangkal di kafe tenda depan Stadion Teladan Medan. dari tempat itu mereka biasa dijemput mobil. Dan kalau Yuni dan rekan belum tiba, pemilik kafe yang masih bujangan itu selalu memberi penjelasan kepada si penjemput. Ataupun meneelpon Yuni lewat telepon umum. Yuni dan rekan tampil masih dalam seragam sekolah.
Mereka biasa ganti pakaian di toko atau plaza, setlah dibelikan si om, atau ada juga pria-pria muda. Tapi mereka lebih senang dengan om karena duitnya diobral, “kita bebas mau makan apa saja,” katanya.
Yuni selalu mengenakan tas besar, baju dan sepatu masuk di dalamnya. Sebelum pukul 19.00, Yuni sudah harus pulang. Karena jam itu adalah waktunya pulang les. Yuni selalu berganti baju di mobil. Dan menyimpan pakaian barunya ke dalam tasnya. Bila orang tua bertanya, asal baju tersebut Yuni menjawab ringan, ”Beli di Monza, hanya Rp 5.000 pakai uang jajan.”
Di Medan memang dikenal, Monza (Mongonsidi Plaza), tempat berdagang pakaian bekas impor. Di sini banyak pakaian berkualitas tinggi kalau rajin memilih harganya murah, karena bekas. Yuni selalu membuat pakaian baru itu lecek, (kumal) dan menyimpan mereknya. Bila sudah dicuci dua atau tiga kali, dipasang kembali. Tak da yang tahu, kalau yang tahu kalau Yuni sudah punya gaun mahal.
Uang bagi Yuni nomor dua, yang penting punya barang-barang mahal, minimal buat koleksi.
Sementara Rose, 19, mahasiswi salah satu PTS di Medan lain lagi ceritanya, keluarganya cukup terpandang dalam bidang ekonomi, tapi Rose suka pesta seks dengan sabu-sabunya. Sekarang Rose lagi istirahat karena sakit. Ia mengaku kena sakit kelamin dan kecanduan narkoba. Rose dengan kelompoknya sering ke Fire Diskotek Thamrin Plaza, kalau mau, mereka cari hotel mewah. Sampai delapan orang satu kamar. Setelah masing-masing puas, mereka pulang esok paginya.
Uang, mobil, pakaian, bagi Rose tidak masalah, tapi Rose ingin bebas, mencari kenikmatan tanpa ikatan. Hampir semua hotel berbintang, sudah dijelajahi Rose dan kelompoknya delapan orang. Mobil mereka dari mulai Daihatsu Rocky, sampai Suzuki Vitara, dan Mercy.
Tapi mereka gandrung ekstasi. Yang dicari Rose gadis berkulit kuning langsat dengan rambut dicat pirang sebatas pinggang itu, semata hanya kepuasan dan kebebasan.
Tempat mangkalnya di mana saja yang mereka senangi, sering juga di kafe tenda, sebab semua mereka menggunakan HP dan pager, mudah dihubungi. Mereka kelompok kelas tinggi.
Kalau Rose naksir cowok teman sekampusnya, kelompok ini berupaya menjebaknya agar ikut bersama mereka. Biasanya Rose dibantu rekan-rekannya dan sering kali berhasil. Biasanya kalau ingin tukar pasangan selalu sama-sama. Bagi pasangan baru, tidak akan bisa lepas sebelum mereka betul-betul puas.
TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: